Penghapusan Trayek Bis: Solusi?

Saya sudah lama mendengar rencana Dinas Perhubungan DKI Jakarta menghapus beberapa trayek bis di ibukota dan mengetahui juga bahwa implementasinya telah berjalan dalam minggu-minggu terakhir ini. Selama ini sikap yang saya ambil adalah mendukung, oleh karena penghapusan trayek tersebut akan mengurangi beban kemacetan jalan raya dan antrian kendaraan umum yang selama ini terkenal dengan kebiasaan ‘ngetem’nya di titik-titik strategis. Trayek bis yang dihapus adalah bis-bis reguler yang rutenya bersinggungan dengan Koridor 9 TransJakarta yang baru dioperasikan. Saya lalu tidak memperhatikan lagi masalah tersebut.

Namun kejadian semalam mengubah opini saya tersebut. Apa yang terjadi?

 

Patas 6

Di minggu-minggu terakhir ini saya bertugas mengajar Business English di daerah Permata Hijau, Jakarta Selatan. Jam kerja yang saya jalani cukup ‘ekstrem’, yaitu antara jam 21.00-23.00; praktis saya baru benar-benar bisa beranjak pulang jam setengah dua belas dan tiba di rumah lewat tengah malam. Selama ini saya tidak pernah kuatir akan kehabisan kendaraan umum pada larut malam seperti itu oleh karena bis-bis dalam kota rute sepanjang S. Parman – Gatot Subroto – MT Haryono beroperasi 24 jam penuh. Namun kondisi yang saya alami semalam berbeda; tidak ada satu pun bis yang lewat pada jam itu dan saya menunggu hampir setengah jam sendirian di halte Semanggi. Tak lama kemudian datang seorang bapak-bapak yang juga menunggu angkutan dan membuka pembicaraan, “Payah ya Mas, P6 udah dihapus sekarang.” GUBRAK!

Omprengan, tidak resmi namun membantu

Pantesan itu bis saya tunggu tidak datang-datang. Ternyata trayeknya dihapus! Saya langsung panik karena bis langsung ke Bekasi sudah berakhir jam 22.30 sehingga saya mengandalkan bis P6 tersebut untuk ke Cawang dan seterusnya naik bis lain ke Bekasi. Bis Cawang – Bekasi sendiri berakhir pukul 23.30 sehingga praktis saya tidak bisa naik bis apa-apa lagi ke Bekasi. Satu-satunya harapan tinggal omprengan tidak resmi yang lewatnya juga ‘2 jam sekali’ (alias tidak pasti) ke Cawang, untuk selanjutnya disambung dengan omprengan lain lagi yang tidak jelas kapan jalannya karena ngetem menunggu penumpang dulu. Memang tak lama kemudian ada omprengan datang, namun sesampainya di Cawang omprengan selanjutnya menunggu lama sehingga saya sempat tertidur. Lalu jam berapa akhirnya saya sampai di rumah? Hampir jam 2 pagi!

Barulah saya sadar bahwa ada loophole yang sangat bodoh dalam kebijakan ini. Keputusan ini secara tidak langsung menghapus satu-satunya opsi angkutan umum pada jam-jam dini hari yang sangat dibutuhkan masyarakat, meski memang porsinya kecil. Gubernur yang katanya ‘ahli’ itu boleh saja berdalih bahwa penggunanya sedikit, namun saya pernah menyaksikan sendiri bahwa bis-bis tersebut telah menolong warga Jakarta dari ancaman kejahatan yang amat nyata. Bagaimana tidak, TransJakarta yang digadang-gadang menjadi solusi transportasi Jakarta itu hanya beroperasi sampai pukul 22.00 saja. Setelah itu apa pilihannya? Omprengan?! Bukankah pemprov DKI menjilat ludahnya sendiri kalau begitu namanya?!!!

Saya yang cowok berbadan gede gini aja (sudah, diam!) kuatir kalau tidak ada kepastian kendaraan pulang di malam hari, lalu bagaimana dengan para perempuan? Masalah ini tidak dapat didiamkan begitu saja. Untunglah saya mendengar bahwa Mayasari Bakti tidak tinggal diam dan tetap meminta Dishub DKI memperbolehkan P6 beroperasi. Responnya? Kita lihat saja nanti. Untuk sementara ini saya harus bersiap menghabiskan waktu di jalan sampai jam 2 pagi. 😦

===

Sumber gambar: travel.detik.com, KabarIndonesia

Advertisements

22 thoughts on “Penghapusan Trayek Bis: Solusi?

  1. kayaknya semua kebijakan keluar tanpa meneliti lebih dalam deh. mentang2 para pejabat punya mobil jadi pemikirannya disamakan juga begitu.

    Saya yang cowok berbadan gede gini aja (sudah, diam!)
    *lansung diam!*

    Like

  2. sejak transjakarta hadir, saya belum sekalipun merasakan manfaat yang signifikan, yang ada saya sudah muak duluan ngeliat jembatan penyeberangan yang harus saya lewati kalau mau naik trans, maklumlah, lutut saya tidak sekuat ketika masih muda dulu wkwkwkwk ….

    Yang jelas lagi monopoli transjakarta menyakiti hati kami πŸ˜€ *demo pemilik kopaja*
    bagaimana tidak?
    sudah jalanan tambah macet gara2 jalanan dipotong buat trans, eh teteeeeeeep aja yang disalahin metromini/kopaja gegara ngetem sembarangan …
    hiks … emang paling enak tuh ngerampok duit rakyat dengan cara korupsi deh
    seperti bang tambunan itu hohoho …

    Like

  3. iya opa, sangat tidak manusiawilah, seandainya busway bisa berfungsi 24jam dan busway jalur tersebut ditambah jumlahnya, karena baik ada busway maupun bus, sama2 tetap bergelimpangan manusia2. So ngak masalah.
    Tapi kalo kayak gini?

    Like

  4. hmmm, jakarta memang tak ramah bagi pengguna transportasi publik. sistem transportasi dibangun dengan perencanaan short term, 5 tahun saja seumur masa jabatan gubernur. selepas ganti penjabat, maka rencana transportasi itu kemudian direvisi sak karep nya. sedih rasanya, dengan umur kemerdekaan yg mendekati uzur, 66thn, kita masih belum punya master plan transportasi yang terintegrasi se macam di singapore atau negara lain.

    ketika saya mencangkul di jakarta, saya memilih menggunakan mobil pribadi, disamping lebih nyaman, ternyata malah lebih murah daripada menggunakan angkutan publik…

    tulisan yg bagus Opa!

    Like

  5. “Saya yang cowok berbadan gede gini aja (sudah, diam!)” #tepokjidat #ngakakgegulingan

    Etapi saya suka lho naik bus transjakarta #ngajakperang.
    Dan kata mama memang nggak boleh pulang terlampau malam, nanti atit #kabursebelumdipentung

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s