Safety Riding: Sederhana Namun Diabaikan

Beberapa waktu yang lalu saya membuat janji bertemu dengan seorang kawan, sebut saja Andre, yang baru pulang dari Amerika setelah menyelesaikan studinya. Sebenarnya tidak bisa juga disebut ‘baru pulang’ karena sudah lewat beberapa bulan setelah kepulangan itu sebelum kami berdua akhirnya bisa meluangkan waktu untuk reuni. Kami janjian bertemu di sebuah mal di Kelapa Gading untuk kemudian bersama-sama pergi ke sebuah konser musik. Setelah bertemu, ternyata ia tidak sendirian. Saya dikenalkan dengan seorang perempuan cantik, sebut saja Nita, yang ternyata juga baru pulang dari Amerika.

Setelah mengobrol sebentar kami pun berangkat. Kendaraan yang digunakan adalah mobil Nita yang sekaligus duduk di kemudi. Manajer pemasaran yang baru 3 minggu kembali ke Jakarta ini dengan lincah mengemudikan mobil barunya. Kebetulan jalanan sedang ramai lancar, namun karena kami takut terlambat ke konser, maka Nita pun zig-zag kanan-kiri dengan santainya melewati mobil-mobil lain. Ketika memasuki jalan tol pun demikian; kondisi jalan tol yang padat memang tidak memungkinkan Nita melaju dengan kecepatan 100 km/jam, namun zig-zag kanan-kiri tetap piawai dilakoni agar cepat sampai tujuan. “Gimana, gue nyetirnya udah kayak supir angkot Jakarta, kan?!” begitu ujarnya riang. Benar saja, kami tiba tepat waktu. Perjalanan ke tempat konser berlangsung aman dan normal. Ketika pulang, giliran Andre yang duduk di kemudi. Namun begitu mobil keluar dari lapangan parkir tempat konser, kami langsung merasakan sesuatu yang ganjil. Apakah itu?

Andre, meski sudah beberapa bulan kembali ke Jakarta, menyetir mobil dengan cara yang ‘tidak biasa’ menurut saya. Di sebuah jalan yang cukup sempit, ada dua buah mobil yang sedang berpapasan sekitar 10 meter di depan kami. Begitu melihat bahwa kedua mobil tersebut berhenti, Andre segera menghentikan mobil pada jarak 5 meter guna memberi ruang bagi mobil di depan untuk mundur dan bermanuver. Demikian halnya ketika berhenti di lampu merah, Andre tidak berhenti persis di belakang mobil depan namun memberi ruang sekitar 3-4 meter. Ketika masuk ke jalan tol yang sedang macet pun demikian: Andre selalu menjaga jarak aman. Zig-zag?! No way! Nita dan saya yang menyaksikan ini justru tertawa-tawa sepanjang perjalanan karena bagi kami, Andre menyetir dengan kehati-hatian dan keteraturan layaknya orang Amerika. “Justru gue yang punya mobil nyetirnya kayak supir angkot,” tukas Nita sambil cekikikan.

Andre yang rada pendiam itu cuma bisa mesem-mesem sewaktu kita sedang bercanda. Namun setelah saya berpikir-pikir lagi, siapa yang benar cara mengemudinya? Andre yang menyetir dengan ‘gaya Amerika’, atau Nita dengan gaya ‘supir angkot? Kalau kita bicara mengenai peraturan lalu lintas, jelaslah bahwa tindakan Andre benar karena mematuhi semua peraturan termasuk dalam menjaga jarak aman. Namun jika kita berbicara mengenai budaya mengemudi, kita menyadari bahwa perilaku Andre tersebut dipandang aneh dan berlebihan oleh sebagian orang (termasuk Nita dan saya). Kita memang tidak dengan sengaja melanggar lalu-lintas; kita paham akan peraturan serta keselamatan berkendara. Namun pemahaman akan safety riding memang sepertinya hanya sebatas bersifat kognitif dan belum merasuk menjadi budaya.

***

UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebenarnya menjabarkan peraturan lalu lintas dengan sangat rinci, termasuk tentang penggunaan lampu sign dan menjaga jarak aman selama berkendara. Salah satu peraturan yang berlaku ketika kita ingin berpindah lajur adalah menggunakan lampu sign 2 detik sebelumnya guna memberikan antisipasi kepada pengemudi di belakang kita. Terhadap peraturan ini saja Nita sebenarnya sudah melanggar karena ia baru menghidupkan lampu tepat ketika akan berpindah lajur. Lalu kewajiban menjaga jarak (idealnya 3,5 detik) juga tidak dipedulikan oleh karena terburu-buru ingin cepat sampai di tujuan.

Yang dapat saya renungkan dari pengalaman malam itu adalah bahwa peraturan lalu-lintas yang berlaku di Indonesia baru menjadi peraturan, belum menjadi budaya yang berlaku di masyarakat kita. Sosialisasi sudah berjalan namun dipandang angin lalu saja. Padahal dua contoh di atas adalah yang sederhana: jaga jaga jarak aman dan nyalakan lampu sign beberapa saat sebelum pindah lajur. Coba sekarang kita telaah kembali apa saja perilaku kita di jalan yang bukan saja melanggar peraturan namun juga membahayakan pengguna jalan lainnya:

1. Menelepon / menggunakan ponsel: masalah ini sudah menjadi bahan diskusi sejak lama. Solusi berupa penggunaan kabel handsfree atau bluetooth pun sebenarnya tidak begitu baik oleh karena menggunakan ponsel saja sudah memecahkan konsentrasi kita selama mengemudi. Saya pernah memaki-maki sebuah mobil di depan saya ketika memperlambat laju kendaraannya di jalan tol. Setelah mobil itu kita lewati, ternyata si bapak sedang sibuk mengirim SMS!

2. Momotoran beriringan dengan kecepatan lambat: anak-anak ABG sering sekali berlaku seperti ini. Separuh badan jalan dikuasai 2-3 motor yang melaju beriringan dengan lambat sambil mereka mengobrol riang. Helm? Mana ada?!

3. Menggunakan lampu high beam kita sedang melaju di jalan dua-arah: tindakan ini sangat berbahaya karena dapat menyilaukan mata pengemudi dari arah berlawanan dan beresiko menyebabkan kecelakaan lalu-lintas. Atau minimal akan mengundang caci-maki dari pengemudi lain di sepanjang arah yang berlawanan tersebut.

4. Menyalakan lampu hazard ketika hujan lebat: menurut sebuah blog yang saya baca, tidak ada peraturan mengenai hal ini namun lebih kepada etika saja. Lampu hazard akan menyulitkan pengemudi lain mengenali arah gerak kendaraan Anda.

Menilik beberapa contoh di atas, tentunya kita paham bahwa masih banyak yang harus kita benahi dalam perilaku di jalan raya. Peraturan tidak dibuat untuk dilanggar namun untuk dipatuhi. Safety riding haruslah menjadi prosedur standar dalam berkendara di jalan dan bukan sekedar menjadi deretan peraturan yang dibaca sambil lalu. Kita sadar bahwa mengubah perilaku dan budaya memang memerlukan waktu dan pada saat ini pemahaman akan perilaku tersebut tidak standar; ada yang sudah paham, ada yang masih kurang, dan ada pula yang bandel ugal-ugalan. Untuk menghindari kecelakaan lalu lintas, sudah selayaknya kita menerapkan safety riding ini sebagai standar.

 

Drive safely, guys!

 

===

Simak juga:

Sumber gambar: blog.toyotaofplano.com, muhamaadmuftirohimin.blogdetik.com, more4kids.info

Advertisements

27 thoughts on “Safety Riding: Sederhana Namun Diabaikan

  1. Salam kenal dan salam persahabatan,,,,,menurut saya sih kalau berkendara lebih baik yang aman2 saja lah,,,soalnya kita membawa mobil bukan hanya membawa diri kita sendiri,tapi ada sahabat/keluarga di dalam mobil kita,dan sopir mempunyai tanggung jawab terhadap keselamatan penumpangnya,,,,,,sob,,kalau boleh saya minta tukeran link ya,,,,,link sobat sudah saya pasang,,,monggo silahkan di cek

    Like

    1. terima kasih atas kunjungannya. memang kita harus sadar bahwa keselamatan di jalan raya bukan hanya berkaitan dengan diri kita sendiri melainkan juga berkaitan dengan keluarga.

      boleh saja tukar link. link kamu akan saya pasang sebentar lagi. silahkan cek nanti ya 😀

      Like

  2. Wuih…lengkap amat mas penjelasannya.
    Memang selama ini masih banyak yang mengabaikan permasalahan seperti ini.
    Tidak banyak yang peduli terhadap keselamatannya sendiri.
    Semoga artikel ini menyadarkan banyak orang dalam berkendara yang bijak 🙂

    Like

  3. Paling jengkel kalo ngelihat motor gak ada dua spion ato cuma satu terpasang. 😡
    Seolah-olah dia sombong, menantang maut. Kenapa sombong? Karena pas belok ato pindah jalur, terkesan dia gak mau tahu dengan keadaan di belakangnya. Kesannya dia mikir “ah, gak peduli di belakang gue ada truk, bis, ato mobil kek, gue pindah jalur aja.” Menjengkelkan sekali. 👿

    Mereka pikir mereka bisa belok ato ganti jalur hanya dengan menolehkan kepala? Menurut saya, itu berbahaya. Dengan menolehkan kepala sedikiiiiit aja, kita akan cenderung mengarahkan motor ke arah yang kita toleh. Ini berlaku juga dengan saat menyetir mobil. 👿

    Like

    1. hehe, memang ada aja sih orang bebal semacam itu. tugas kita sebagai teman yang mengingatkan aja, selebihnya urusan dia sendiri. toh dia udah gede (saya sih gitu aja mikirnya). 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s