Only A Girl: Menantang Phoenix dan Pergumulan Tiga Zaman

Keluarga Ong merupakan keluarga Tionghoa yang tinggal di Bandung pada masa kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an. Rumah keluarga Ong yang besar dan berhalaman luas terletak di salah satu daerah elit di Bandung Utara; bertetangga dengan orang-orang Belanda dan warga Tionghoa kaya lainnya yang mendapat status istimewa dari pemerintah. Terdapat tiga generasi yang mendiami rumah ini: Nanna, seorang nenek yang ditinggal suami dan mempunyai dua putra dan dua putri. Nanna adalah seorang wanita berkarakter teguh dan berwibawa serta taat dalam melakukan ritual penyembahan arwah leluhur. Generasi kedua adalah Chip, Ting, Sue, dan Carolien; anak-anak Nanna yang sudah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing dan menghabiskanΒ  sebagian besar waktu mereka tinggal di satu rumah untuk menjaga Nanna sekaligus merawat peninggalan sang ayah yang tewas tertembak saat membantu pemerintah memberantas perdagangan opium. Sedangkan generasi ketiga adalah cucu-cucu Nanna: Emma, Els, Eddie, dan Jenny. Mereka semua menjadi saksi masa transisi besar dalam jangka waktu lima belas tahun: berakhirnya masa kolonial Hindia Belanda, pendudukan Jepang, pendudukan kembali tentara Belanda dan revolusi, serta masa pemerintahan kaum hwana (pribumi) dalam sebuah negara baru bernama Indonesia.

Cerita ini tertuang dalam sebuah buku berjudul Only A Girl: Menantang Phoenix karangan Lian Gouw, seorang penulis Tionghoa-Indonesia yang telah pindah ke Amerika Serikat. Buku ini sarat dengan latar belakang historis dan dihiasi oleh pergumulan keluarga tiga zaman tersebut dalam menjaga jati dirinya dan sekaligus meraba lingkungan sekitarnya. Berikut beberapa catatan saya:

1. Dari Hindia Belanda ke Indonesia

Pada masa ini Keluarga Ong hidup relatif nyaman. Kedua anak laki-laki Nanna mempunyai jabatan bagus di pemerintahan berkat jasa almarhum ayah mereka dan segenap keluarga diberkahi hidup berkecukupan. Mereka semua mengenyam pendidikan Belanda dan juga menggunakan Bahasa Belanda sehari-harinya di rumah. Oleh karena kenyamanan ini, tidak sulit menebak ke mana loyalitas mereka diletakkan. Segala asosiasi dengan Belanda menimbulkan rasa bangga dan mengagung-agungkan Ratu Juliana serta mencela pemimpin gerakan muda Soekarno sudah menjadi topik harian di meja makan. Pada masa pendudukan Jepang, loyalitas itu ditunjukkan dengan cara menyelundupkan makanan dan obat-obatan ke kamp-kamp internir Belanda di Bandung. Jenny, putri semata wayang Carolien yang baru berusia delapan tahun pun direkrut menjadi kurir yang harus merangkak di dalam gua untuk menyelundupkan makanan tersebut.

Namun loyalitas tersebut perlahan berubah menjadi beban ketika Chip dieksekusi oleh Jepang oleh karena keberpihakannya pada Belanda, uang yang datangnya tidak tentu, dan tiga orang Belanda yang datang menumpang di rumah setelah Perang Dunia II usai. Belanda, yang dulu dianggap mendatangkan keberuntungan, sekarang meminta ganti rugi keberuntungan itu dengan nyawa, harta dan juga kehormatan sebagai orang Cina setelah Els dan Eddie menikah dengan orang Belanda dan Indo tanpa seizin orang tua mereka.

Ketika Belanda resmi mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 dan secara perlahan sistem Belanda dialihkan ke tangan orang-orang pribumi, Keluarga Ong harus mengalami masalah yang lain lagi. Jenny, misalnya, mengalami kesulitan ketika tiba-tiba sekolahnya mengganti bahasa pengantar di sekolah menjadi Bahasa Indonesia; sebuah bahasa yang berbeda dari Bahasa Melayu yang biasa dipakai sehari-hari ketika berbicara dengan pembantu atau kusir delman. Kemudian suhu politik Indonesia yang naik-turun tak urung membuat keluarga itu cemas dengan hari-hari dan masa depan mereka.

2. Jati Diri & Hubungan Antar Kelompok

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah eksplorasi Lian Gouw terhadap sebuah keluarga Tionghoa yang sedang terombang-ambing antara jati dirinya sebagai Cina dan pengaruh Barat yang begitu ketat merasuk ke dalam pemikiran dan gaya hidup. Nilai-nilai keluarga yang dianut masyarakat Cina di tanah rantau memiliki spektrum yang cukup luas dan rumit. Nanna, misalnya, dengan setia mendoakan arwah leluhur setiap hari namun mendukung suaminya menerima budaya Belanda di rumah dan memasukkan anak-anak mereka ke sekolah Belanda, bukan ke Sekolah Katolik Belanda untuk Orang-orang Cina. Ini membuktikan bahwa budaya Cina di keluarga Ong cukup terbuka menerima masukan meski ada batas tertentu yang tidak boleh dilanggar, utamanya adalah pilihan menikah. Nanna tidak pernah merestui keinginan cucu-cucunya menikah dengan orang bukan Cina meski tidak juga menyatakannya secara terbuka.

Lain dengan Nanna yang berusaha menjaga keseimbangan antara budaya Cina dan Belanda, anak-anak dan cucu-cucunya memilih jalan yang lebih jauh dengan cara mengadopsi budaya dan pemikiran Belanda secara terbuka. Eddie dan Els memilih orang Indo dan Belanda sebagai pasangan hidup masing-masing. Carolien dan Jenny bergaul dengan orang Belanda di sekolah dan kantor. Bahkan nama-nama mereka pun merupakan nama Belanda agar lebih mudah menyesuaikan diri.

Sebaliknya, kaum pribumi yang menjadi pembantu di rumah dipandang sebagai orang-orang tidak berpendidikan meski mereka mendapat perlakuan yang baik. Kenyataan bahwa kaum hwana, begitu sebutan mereka terhadap pribumi, mengambil alih kekuasaan dipandang sebelah mata oleh Ting dan adik-adiknya. Kaum pribumi dianggap perlu belajar lebih giat dan meningkatkan taraf pendidikannya dulu sebelum sanggup menerima mandat pemerintahan. Itulah sebabnya Keluarga Ong dirasuki kecemasan ketika akhirnya kaum pribumi benar-benar menguasai pemerintahan. Meski orang-orang Tionghoa pada umumnya dengan cepat menguasai sektor bisnis, pergaulan mereka dengan kaum pribumi senantiasa digelayuti kegamangan dan ketidakpastian.

3. Bandung Tempo Dulu

Setting cerita ini adalah di Bandung pada kurun waktu 1930-1952. Lian Gouw menggambarkan kota Bandung secara romantis dan terperinci. Banyak nama gedung dan wilayah yang disebut-sebut di buku ini dan sebagian di antaranya masih dipakai sampai sekarang seperti Jalan Braga, Kosambi, dan Lembang. Di buku ini disebutkan bahwa Els dan Jan Bouwman menikah di Gereja Reformasi Belanda dekat alun-alun Kota Bandung dengan mudah saya kenali sebagai Gereja GPIB Immanuel di Jalan Wastukencana sekarang. Christelijke Lyceum (berubah menjadi SMA Republik Indonesia pada tahun 1950), tempat Jenny menyelesaikan pendidikan setara SMA-nya, bisa jadi adalah cikal-bakal SMA Negeri 1 Bandung sekarang. Ada pula beberapa sekolah lain yang disebut-sebut seperti Sekolah Katolik Belanda untuk Pribumi (Sekolah St. Angela?!) dan Sekolah Katolik Belanda untuk Orang Cina (mungkin sudah ditutup dan digabung ke sekolah pribumi).

Jenny cukup banyak bercerita tentang sekolahnya di buku ini dan kesan yang saya tangkap adalah tingkat pendidikan pada masa kolonial Belanda sangat baik, meski saya ragu apakah level yang sama juga diterima oleh anak-anak yang bersekolah di Sekolah Belanda untuk Pribumi (HIS).

Jalan Braga, 1937

4. Menatap Masa Depan

Saya teringat akan perbincangan dengan seorang kawan semasa kuliah bertahun-tahun yang lalu. Ia mengemukakan bahwa orang-orang Tionghoa pada dasarnya adalah pedagang ulung dan rela melakukan apa saja untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Hal ini tercermin dari keberpihakan mereka pada penguasa setempat, tak peduli ideologi apa pun yang dipegang oleh penguasa saat itu asalkan usaha mereka lancar. Ketika Belanda berkuasa, mereka berpihak pada Belanda. Ketika Indonesia berkuasa, mereka pun mendekati kaum pribumi. Maka tak heran pula ketika orang-orang komunis memperkuat pengaruhnya di masa Orde Lama, warga Tionghoa pun bekerja sama dengan mereka demi kelangsungan usaha; suatu hal yang akhirnya menjebak banyak orang Tionghoa ketika Orde Baru ganti berkuasa.

Argumentasi itu boleh saja dibantah karena perbincangan saya itu tidak dibarengi dengan studi mendalam. Namun paling tidak kita mesti mengakui bahwa kebijakan pemerintah kolonial maupun lokal di masa lalu sedikit-banyak telah menyulitkan keluarga Ong untuk benar-benar berakar di tanah kelahiran mereka, Indonesia. Status mereka yang berada di bawah orang Belanda namun di atas orang pribumi membuat mereka kesulitan diterima di kelompok mana pun. Satu-satunya pilihan logis bagi masa depan Jenny dan anak-anak muda sepantarannya adalah kuliah ke luar negeri dan melanjutkan hidup di negara lain. Masa depan di negara baru yang bernama Indonesia tidak cerah di mata mereka.

5. Catatan Akhir

Masih ingat dengan ungkapan ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’? Setelah membaca buku ini saya merenungkan betapa penjajahan bangsa Belanda di Indonesia selama 350 tahun ternyata telah meninggalkan kerusakan yang masih nyata bahkan sampai sekarang. Kerusakan itu bukan lagi bersifat fisik namun mental. Kebijakan Belanda yang memecah-belah penduduk Indonesia dari berbagai etnis dengan cara mengklasifikasikannya ke dalam beberapa ‘kasta’ menumbuhkan bibit-bibit konflik di antara sesama bangsa sendiri. Pembatasan akses pendidikan terhadap orang Tionghoa dan pribumi semakin memperlebar kesenjangan di masyarakat yang semuanya berujung pada sensitifnya hubungan antar suku dan ras. Kini setelah lama Belanda meninggalkan Indonesia, kerusakan itu masih terlihat. Lihat saja hubungan antar ras, suku, dan agama di Indonesia yang tampak harmonis namun rapuh. Lalu budaya feodalisme yang menghambakan kaum pribumi sebagai pembantu justru dilanjutkan oleh bangsa kita sendiri yang turut pula menindas kaum miskin dan sebaliknya berlomba-lomba mendekatkan diri kepada kaum penguasa.

***

Membaca buku yang sangat baik ini memerlukan kedewasaan dalam berpikir. Saya mesti pandai-pandai mengingatkan diri bahwa buku ini mesti ditempatkan pada konteks zamannya, oleh sebab saya dengan mudah dapat tersinggung bila membaca kalimat-kalimat yang merendahkan kaum pribumi yang bodoh dan yang memandang gerakan kebangkitan pribumi sebagai sebuah ancaman. Namun saya juga mesti berlapang dada mengakui bahwa warisan pemikiran pada zaman itu masih terlihat pada masa sekarang meski hubungan antar suku dan bangsa di Indonesia dan Belanda sudah banyak berubah. Pada akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa sangat baik untuk menghargai sejarah melalui cerita dalam buku ini, namun alangkah pentingnya juga untuk menata masyarakat yang madani dan merajut sejarah yang baru.

 

====

Data buku

Judul: Only A Girl – Menantang Phoenix

Pengarang: Lian Gouw

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2010

Jumlah halaman: 385 halaman

===

(Sumber gambar: google.com)

Advertisements

5 thoughts on “Only A Girl: Menantang Phoenix dan Pergumulan Tiga Zaman

    1. hehe. ini udah bukan sinopsis ya. ini review, karena sebagian besar jalan cerita sudah saya keluarkan. lagian memang ada banyak pelajaran penting yg bisa diambil. thanks karena tulisan ini sudah dianggap dapat memberi inspirasi utk membaca sendiri bukunya πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s