8 Days to Christmas

Awal bulan Desember ini saya baru menyadari sesuatu: sebentar lagi Natal. Memang lucu, biasanya saya tersadar bahwa Natal sudah menjelang kalau saya berkunjung ke mall dan menyaksikan pernak-pernik Natal di mana-mana. Berhubung akhir-akhir ini saya jarang pergi ke tempat yang namanya mall, jadi hari-hari rasanya berlalu begitu saja. Akan tetapi suasana Natal tiba-tiba menyeruak di rumah akibat ayah saya yang membawa turun sebuah kardus besar yang berdebu. Apa isinya?! Pohon Natal.

Pohon Natal sebenarnya tidak memiliki makna yang berkaitan langsung dengan perayaan Natal. Bahkan segala pernak-pernik Natal yang Anda saksikan sebagian besar tidak berhubungan dengan makna Natal yang sebenarnya. Sinterklas, Pohon Natal, lampu-lampu, semuanya lebih kepada tradisi Eropa yang memiliki makna berbeda. Pohon cemara, misalnya, dipilih karena kemampuannya bertahan hidup selama musim dingin tanpa menggugurkan daunnya. Lilin, simbol lain perayaan Natal, awalnya dipasang di jendela rumah sebuah keluarga sederhana di Jerman semasa perang. Apalagi Santa Claus dengan kebiasaannya menyusupi cerobong rumah pada Malam Natal untuk mengirimkan hadiah; itu tidak lebih dari cerita rakyat saja.

Makna Natal di Eropa dan Amerika memang sudah mengalami banyak pergeseran. Natal dirayakan bukan saja oleh yang beragama Kristen, namun juga dirayakan oleh semua orang meski mereka tidak mempercayai kelahiran Kristus yang menjadi esensi sebenarnya. Natal, bagi mereka yang tidak percaya, adalah saatnya berkumpul dengan keluarga tercinta. Di Jepang malah lebih aneh lagi; Malam Natal identik dengan kencan romantis muda-mudi yang biasanya berujung di kamar hotel. Ironis?!

Coba kalau kita perhatikan lagi, dekorasi apa yang muncul di mall pada musim Lebaran, misalnya? Hampir pasti ada ketupat dan bedug, bukan?! Apakah ketupat dan bedug berhubungan langsung dengan esensi Idul Fitri?! Tentu tidak. Hanya saja masyarakat Indonesia masih lebih beruntung karena memiliki kesadaran religi yang tinggi sehingga perayaan Idul Fitri atau Natal tidak terpaku pada simbol-simbol ketupat atau pohon. Tapi kira-kira ini dapat menggambarkan betapa kita sering kali mengidentikkan perayaan suatu hari besar agama dengan simbol-simbol yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan perayaan tersebut.

Jadi, ironis sekali sebenarnya kalau saya baru “menyadari” Natal sudah dekat ketika ayah saya membawa turun Pohon Natal untuk dipasang di rumah. Seharusnya saya merenungkan lebih dalam makna Natal yang hakiki tanpa harus membaca simbol-simbol itu untuk menyelami esensinya. Baguslah, saya sadar sewaktu perayaan itu belum lewat πŸ˜€

Jadi, buat teman-teman yang merayakan, Selamat Natal ya. Dan maafkan saya karena mengirimkan gambar di bawah ini sebagai ucapan selamat. Soalnya tidak ada gambar yang cocok untuk menggambarkan Natal di tengah panasnya cuaca tropis seperti di Indonesia (lagi-lagi terpaku pada simbol). πŸ˜€

Advertisements

17 thoughts on “8 Days to Christmas

  1. .. anak yang tak berbakti hehehe.. πŸ˜›

    minimal bantuin itu bokap nurunin en dekorasi pohon natal hehe..

    biar hanya simbol, bisa jadi itu simbol utk “ayo berkumpul” dan “syukuri apa yang ada hingga hari ini”. πŸ™‚

    Like

  2. Kemarin dapat imel tulisannya begini:
    We need to remember WHO Christmas is all about.
    We need to put Christ back in Christmas.
    Jesus is still the reason for the season.

    Dan sekarang baca ini, saya makin miris.. pergeseran Natal itu ada… we need to put Christ back in Christmas. agree?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s