The Social Network: Menabur Teman, Menuai Musuh

DISCLAIMER: Postingan ini mengandung sebagian isi cerita film, meski terlalu sedikit untuk dapat dikatakan spoiler. Apabila Anda tidak ingin mengetahui sedikit cerita film ini sebelum menontonnya, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini dulu. Terima kasih.

The Social Network adalah film terbaru garapan sutradara David Fincher yang ceritanya berputar pada kehidupan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook yang jenius dan kontroversial. Terus terang film ini belum pernah menjadi perhatian saya sampai suatu ketika saya menemukan postingan Iman Sulaiman di blognya tentang film ini dan disusul pembicaraan via YM yang cukup menarik kemarin pagi. Terdorong oleh postingan itulah saya menetapkan hati untuk menonton filmnya siang itu juga selagi ada waktu senggang. Dan saya tidak kecewa πŸ˜€

The Social Network diangkat dari kisah nyata sang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg (diperankan oleh Jesse Eisenberg) dimulai sejak ia menjadi mahasiswa tingkat dua di Harvard University. Akibat diputuskan oleh pacarnya, Mark pulang ke rumah pada suatu malam, mengambil beberapa botol bir dan mulai menciptakan sebuah situs yang dapat membuat seisi kampus Harvard memilih mahasiswi-mahasiswi mana yang menurut mereka paling cantik. Facemash langsung melejit dengan 22,000 hits dalam 2 jam sebelum akhirnya diendus pihak keamanan IT kampus. Ulah Mark yang berujung pada 6 bulan hukuman percobaan itu justru membuatnya mendapat ide untuk memperluas situs itu ke berbagai kampus dan menambahkan berbagai fitur. Dengan dibantu oleh temannya, Eduardo Saverin (diperankan oleh Andrew Garfield), keduanya mulai membangun situs Thefacebook.com yang konsepnya ditengarai mencontek karya cipta Winklevoss Bersaudara dan Divya Narendra. Lalu Sean Parker (diperankan oleh Justin Timberlake) muncul di tengah-tengah film dengan ide-ide cemerlangnya meski harus mengorbankan persahabatan Zuckerberg dengan Saverin. Perseteruan keduanya, ditambah dengan tuntutan hukum dari Winklevoss-Narendra, berlanjut ke pengadilan.

Saya terkesima sepanjang film ini berlangsung, terutama oleh lontaran percakapan yang berlangsung sangat intensed; sesuatu yang mencerminkan dinamika kehidupan kampus Harvard pada umumnya dan menjadi penanda kecerdasan Zuckerberg yang di atas rata-rata. Kesan pertama yang langsung tertancap di benak saya tentang Zuckerberg adalah dinginnya karakter orang tersebut; tidak mempunyai cukup compassion dan tanpa ampun melindas kompetitornya. Namun di balik karakter yang keras itu tersembunyi sebuah sosok yang rentan, kesepian dan sangat membutuhkan sahabat, terutama teman wanita. Saya menduga perasaan inferioritas cukup menghantuinya oleh karena ia gagal diterima di final clubs yang merupakan klub-klub elit terkemuka di Harvard. Perasaan rendah diri tersebut kemudian ditutupi dengan kerja keras membangun situs Thefacebook, meski harus mengambil sebagian ide dan coding dari Winklevoss-Narendra. Memang akhirnya Facebook menuai kesuksesan dengan 500 juta pengguna yang tersebar di 207 negara pada tahun 2010, namun apakah harga yang harus dibayar?

Menonton film ini membuat saya berpikir bahwa betapa mudahnya kita menggaet teman menjadi sahabat dan juga membuat teman kita tersebut menjadi musuh. “Itu konsekuensi yang mesti dibayar,” mungkin itulah pemikiran Zuckerberg ketika itu. Meski saya dapat dengan mudah membantah argumen itu, saya harus mengakui bahwa Zuckerberg mungkin benar ketika berpikir bahwa “kita harus memasangkan masker pada diri sendiri dahulu sebelum menolong orang lain.” Bahwa sebuah persahabatan yang berakhir dengan tragis mungkin tidak ia harapkan, namun ketika dihadapkan pada pilihan menolong orang lain atau mencapai kesuksesan sebesar-besarnya meski harus mengorbankan teman, Zuckerberg memilih opsi terakhir. Gambaran Zuckerberg yang seperti ini memang bukanlah gambaran yang positif; pada kenyataannya karakter aslinya jauh berbeda menurut pandangan teman-temannya meski sebagian besar kejadian di film tersebut memang nyata terjadi. Melalui gambaran negatif dari Zuckerberg ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa meski prinsip “keamanan mengenakan masker” itu perlu, namun jangan sampai mengorbankan orang lain yang seharusnya kita tolong dan juga menafikan kesetiakawanan.

Inspirasi yang tidak kalah mengesankan adalah kecemerlangan ide-ide Zuckerberg dan Saverin dalam menangkap peluang bisnis dalam situasi apapun. Kejadian-kejadian sepele dalam kehidupan sehari-hari justru dapat memicu hadirnya fitur-fitur baru di Facebook yang seakan menjadi jawaban kebutuhan orang secara spesifik. Saya juga belajar bahwa sebuah ide paling baik apabila orisinal, namun bila tidak, memperbaiki ide orang lain juga tidak dosa. Pencontekan ide orang lain memangnya batasnya tipis di sini, namun apabila ide orang lain tersebut diambil dan disempurnakan, maka pencetus ide awal tidak bisa mengklaim bahwa idenya itu dijiplak 100% (saya jadi teringat kisruhnya peraturan HaKI di Indonesia dan dunia internasional). Lalu saya belajar juga bahwa kesepakatan yang cuma bersifat lisan dapat dengan mudah dilanggar tanpa ada kemungkinan dituntut ke pengadilan karena ketiadaan bukti yang kuat.

The Social Network mengingatkan saya bahwa niat membangun startup lokal merupakan konsekuensi yang tidak main-main dan bisa jadi mahal pengorbanannya. Salah langkah dalam membaca pasar dan kebutuhan pengguna, habislah sudah. Harvard Connection menjadi contoh runtuhnya sebuah ide cemerlang yang tanpa dibarengi kejelian membaca kompetisi lalu habis ketika Facebook mengudara. Butuh mental tahan banting untuk memulai bisnis di bidang ini. Namun bukan berarti tidak ada kesempatan dan potensi meraup untung besar. Semua kembali kepada model business plan yang kita punya dan komitmen dalam menjalankannya, serta kohesi dengan teman-teman seperjuangan kita.

Jadi bagaimana? Masih beranikah Anda memulai startup lokal? Ditunggu sharingnya ya πŸ˜€

===

Images: The Social Network’s Official Site

Advertisements

14 thoughts on “The Social Network: Menabur Teman, Menuai Musuh

  1. Wah ada nama saya disebut (dance)

    Dibalik karakter Mark yang kontroversial di film ini, saya melihat ada sisi yang patut kita teladani darinya, yaitu keberanian untuk mewujudkan ide2 besar di kepalanya.

    Dia berani menanggung resiko atas apa yang dia lakukan. Namun dia melakukan ini pun bukan tanpa dasar, dia telah membuktikan dengan test case membuat Facemash.com yang ternyata sukses.

    Keberanian plus konsep yang matang dan jeli membaca pasar menjadi kunci kesuksesan seorang Mark dengan Facebooknya.

    Memulai startup lokal? Siapa takut? hehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s