Sumpah Pemuda 2.0. Masihkah Bermakna?

Sebuah undangan datang ke Komunitas Blogger Depok pada sekitar pertengahan Oktober; peringatan Sumpah Pemuda akan diadakan di Museum Kebangkitan Nasional oleh XL Axiata dengan tajuk “Soempah Pemoeda 2.0.” Meski rekan-rekan di Depok antusias mengumumkannya di milis, saya menanggapi undangan itu dengan dingin. Apa pasal?!

Tidak seperti Peringatan Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus yang ditandai dengan upacara bendera yang khidmat dan dimeriahkan oleh pesta rakyat, peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober hampir tidak ditandai apapun dan selalu lewat begitu saja tiap tahun bagi saya. Mungkin saja saya masih hafal akan teks Sumpah Pemuda, tapi janganlah bertanya maknanya; paling saya akan menjawab “persatuan” dan seterusnya mengangkat bahu tanda tak paham. Ketika akhirnya kemudian saya muncul juga di Jl. Abdulrachman Saleh 26 pada Kamis siang itu lebih karena keinginan kopdar dengan para blogger daerah *pengakuan*. Nah, apa yang kemudian saya alami di sana?

Setelah disambut hangat oleh petugas registrasi yang membantu saya meski datang tanpa mendaftar sebelumnya, saya dipersilahkan masuk tepat ketika acara hendak dimulai pada jam 14.00. Aula museum sudah ramai oleh para blogger dan wartawan. Setelah persembahan tari-tarian, lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan sambutan-sambutan, tibalah salah satu agenda utama: talkshow yang dimoderatori Jaya Suprana. Talkshow yang menghadirkan beberapa narasumber seperti Imam Prasodjo, Iman Brotoseno, dan beberapa orang lagi ini berlangsung lancar namun hampir tanpa interaksi dengan floor. Lalu bagaimana perhatian para blogger di bawah? Sebagian masih serius menyimak diskusi, namun yang lainnya sudah sibuk berkopdar, termasuk saya yang diperkenalkan dengan beberapa blogger daerah lalu asyik mengobrol dengan mereka. Jujur saya akui, saya tidak menyimak diskusi di panggung karena memang sedari awal saya tidak merasakan aura Sumpah Pemuda di situ. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap kerja keras XL sebagai tuan rumah, saya mohon maaf karena talkshow tersebut belum menjadi inspirasi oleh karena kurangnya perhatian saya pada waktu itu.

Setelah diskusi berakhir, XL sebagai tuan rumah kemudian mengundang 14 blogger dari 14 komunitas untuk tampil ke depan dan secara resmi mengumandangkan Soempah Pemoeda 2.0, sambil meminta para hadirin untuk mengumandangkan sumpah yang sama via twitter. Maka Sumpah Pemuda versi digital pun berkumandang di Museum Kebangkitan Nasional; sebuah momen yang menjadi kebanggaan kami para blogger karena dapat melaksanakannya secara digital (maklumlah blogger, apa-apa lebih keren kalo digital. Hehe). Saat itulah perhatian saya mulai terfokus ke depan dan menyimak kalimat-demi-kalimat sumpah itu diucapkan.

Kaki sudah hendak beranjak pulang ketika acara berakhir ketika para blogger diminta untuk tetap tinggal. Masih ada satu lagi mata acara: permainan. Saya awalnya merasa agak malu mengikuti permainan semacam itu, namun saya menurut juga ketika ditawarkan sebuah pita putih dan masuk ke sebuah kelompok. Fine, mari kita bermain! 😀

Lalu tampillah Komunitas Historia Indonesia yang menjelaskan aturan permainan pada sore itu. Kita diharuskan berlari mengambil kotak puzzle di sebuah ruangan di museum tersebut dan bersama-sama menyusunnya. Setelah sesi puzzle selesai, kami digiring ke Museum Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya 106. Sejak dari Abdul Rahman Saleh, sepanjang perjalanan dengan bis hingga tiba di Kramat, rekan-rekan dari Komunitas Historia yang umumnya mahasiswa jurusan Sejarah ini menceritakan dengan rinci latar belakang terjadinya Kongres Pemuda II tahun 1928, sejarah gedung-gedung museum dan sekitarnya, sampai pada sosok tokoh-tokoh kunci Kongres Pemuda tersebut.

Sembari mendengarkan penjelasan tersebut, secara perlahan situasi di tahun 1928 tersebut tergambar di benak saya dan tokoh-tokohnya hadir secara imaji manusiawi. Para wakil organisasi pemuda ini merasakan kebutuhan yang sama akan sebuah identitas bangsa yang baru yang terlepas dari kolonialisme. Para pemuda tersebut sampai pada kesimpulan bahwa persatuan adalah opsi satu-satunya yang dapat mengalahkan penjajah dan faktor-faktor yang dapat memperkuat persatuan tersebut adalah kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan. Kemudian melalui permainan yang diadakan di Museum Sumpah Pemuda, para peserta diajak untuk mengenang kembali saat-saat sakral ketika Sumpah Pemuda tersebut dikumandangkan sekitar jam 5 sore.

Ada hal yang menarik yang saya temukan di sini. Teks Sumpah Pemuda yang selama ini saya kenal dan hafal ternyata adalah teks penyempurnaan yang dikeluarkan ketika Indonesia secara resmi menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (1972). Tim kami diberi kesempatan menghafalkan versi aslinya untuk kemudian dikumandangkan kembali secara lantang. Berikut teks aslinya:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ketika Komunitas Historia mengajak kami merenungkan detik-detik pembacaan Sumpah Pemuda tersebut, alam imajinasi saya melayang kembali ke 82 tahun silam kepada gambaran para pemuda-pemudi yang sedang berdiri di pelataran dalam gedung tersebut. Pastilah yang mereka rasakan adalah kesamaan identitas yang memacu mereka memperjuangkan kesetaraan bangsa secara bersama-sama. Sebuah keharuan yang luar biasa yang tidak dapat terlukiskan kecuali bagi mereka yang merasakannya langsung di sana. Bagi kami yang memperingatinya, kami memaknai momentum tersebut sebagai sarana memperkuat kesatuan bangsa di tengah berbagai ujian bencana yang sedang melanda kita. Bumi Wasior belum lagi kering, Mentawai baru dilanda tsunami, dan Merapi baru mengeluarkan letusan besar pertamanya. Langkah kita di medan bencana merekatkan semua orang dari berbagai suku dan latar belakang tersebut untuk membantu mereka yang kesusahan.

Saya pulang dengan perasaan bersyukur karena telah “mengalami kembali” Sumpah Pemuda melalui proses napak tilas yang tidak biasa. Andaikan saya tidak datang pada siang hari itu, atau hanya bertahan sampai talkshow, pasti saya tidak akan membawa hikmah apapun. Orang muda zaman sekarang memang unik; kita tidak lagi mempan oleh berbagai semboyan persatuan yang digadang-gadang melalui kirab pemuda atau pidato-pidato para pembesar. Butuh pengalaman napak tilas untuk benar-benar menanamkan semangat itu agar terus terbawa ke kehidupan sehari-hari. Kali ini dengan jujur saya mengucapkan salut kepada XL Axiata dan Komunitas Historia Indonesia yang telah membawa kami mengalami kembali momentum bersejarah ini. Dampak dari terselenggaranya acara ini bukan saja liputan media dan blogger yang luas, namun juga terbukanya mata kita terhadap keagungan Sumpah Pemuda.

***

Terlepas dari khidmatnya napak tilas Sumpah Pemuda, bukan blogger namanya kalau tidak memanfaatkan setiap kesempatan untuk berfoto narsis. Foto berikut adalah gera’an spontan yang digagas oleh para blogger dari Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta, dan Surabaya.

Asosiasi Blogger Gendut! 😀

===

Sumber gambar: Wikipedia Indonesia & @amriltg

Advertisements

26 thoughts on “Sumpah Pemuda 2.0. Masihkah Bermakna?

  1. Iya Brad, gimana ngga pada kebal sama slogan2 seperti jaman dulu. Bangsa kita udah kenyang merasa dibodohi oleh orang2 yang mengaku sebagai pemimpin bangsa. Janji2 mereka seringkali hanya menjadi buah bibir belaka. Sudah beberapa kali berganti figur, tetapi hasilnya yang tertindas tidak pernah didengar. Makanya banyak keluar istilah2 NATO (No Action Talk Only), Lip Service, Pepesan Kosong dll. Orang sekarang lebih melihat hasil kerja daripada janji2 muluk yang tidak membumi. Tadi malah nonton liputan di Metro TV ttg Sumpah Pemuda yang malah menitik beratkan pada pelestarian budaya. Walau bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, tapi Indonesia kaya dengan berbagai macam budaya. Bhinneka Tunggal Ika katanya.

    Like

    1. tadi gw juga nonton tayangan metro tv itu; bahasa cuma salah satu aspek sumpah pemuda sih. soal janji2 omong kosong itu ya perasaan kita sama lah. mesti ada pemimpin yg berkomitmen. ada juga sebenarnya yg patut di contoh. salah satunya bisa dengan hormat gw sebut di sini, Walikota Solo, Joko Wi.

      So Ben, you think you’re ready for 2014?! 😀

      Like

  2. Sempat napak tilas segala ya kemarin???

    Wah nampak seru ya? Iri nih ane nggak bisa merasakan bagaimana perasaan ketika detik2 sumpah pemuda itu dibacakan kembali.

    Eitu foto ABG (assosiasi blogger gendut) nya beneran dah, narsis abis hehehe

    Like

  3. Bwahahaha, itu yang menang kenapa kebetulan ukurannya jumbo semua ya Opa?

    Owh, pantesan menang, ternyata mengumandangkan secara lantang teks sumpah pemuda dengan benar, itu kuncinya. Tim saya agak belepotan deh kayaknya. 🙂

    Like

    1. saya pikir kesimpulan anda terlalu menggeneralisir. saya hanya menceritakan diri saya, yg kebetulan tidak memperhatikan talkshow pada waktu itu krn topiknya tidak menarik “bagi saya”. paham ya 🙂

      Like

  4. wah ternyata seru sekali yah kalo ada asosiasi ato komunitas begini…
    ada yang tau komunitas bloger jogja kah????
    baru neh soalnya di perblogingan…….

    Like

  5. *lostpokus*

    potonya ada toh 😆

    btw talkshow sebenarnya menarik, tapi ga terlalu jelas.. sayah yg ingin mengikuti dengan seksama malah ga bisa. terganggu dengan photographer yang bersliuran.. hanya pada pas diskusi tentang kebiasaan melihat hp saja yang agak terang 😀

    Like

  6. Ada member perempuanya juga asosiasi itu ?
    boleh kenalan nggak *evilgrin*

    Yang paling seru dari semua acara itu saat pengucapan sumpah pemuda yang bikin kelompok putih jadi pemenang grup. *putih putih pitanya, montoq montoq si opa*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s