Cacatnya Sebuah Komitmen

Apa artinya sebuah komitmen bagi Anda?

Bagi saya sebuah komitmen adalah janji yang bersifat mengikat dan harus dilaksanakan. Wajib. Namun ada kalanya kita tidak dapat memenuhi komitmen itu oleh karena satu dan lain hal yang bersifat valid dan dapat diterima. Apabila itu terjadi, apa yang Anda lakukan?! Adakah contohnya?!

Malam ini saya membuat janji dengan beberapa rekan yang ingin lebih mengembangkan potensi daripada sekedar jalan-jalan dan berusaha menciptakan suatu kegiatan atau usaha bersama yang dapat menghasilkan keuntungan. Ini bukan pertemuan pertama; pertemuan perdana sudah berjalan minggu sebelumnya. Malam ini rencananya kita akan menyumbangkan beberapa ide yang kira-kira pas untuk kita jalankan.

Maka komitmen untuk bertemu pun dibuat; jam 19.30 di suatu restoran. Setelah semua peserta mengkonfirmasi jadual tersebut, maka dalam benak saya, komitmen itu otomatis berjalan. Mengingat jarak tempat bertemu tersebut tidak dekat, saya sudah berangkat jauh sebelumnya dan memperkirakan akan tiba tepat waktu atau meleset barang setengah jam. Bagi saya itu masih lumrah mengingat pertemuan itu lebih bersuasana santai dan terkadang kondisi jalan yang macet tidak bisa diprediksi. Saya pun sampai di tempat tersebut 10 menit setelah jadual yang ditentukan dan mencoba menanyakan keberadaan teman-teman yang lain. Berhubung HP yang biasa saya gunakan untuk berinternet tidak ada, saya hanya mengandalkan telepon dan SMS selama di perjalanan. Barulah ketika sampai di tempat saya bisa membuka laptop dan terhubung ke internet. Namun apa yang saya temukan?!

Terkejutlah saya ketika membuka email dan membaca pesan-pesan berbalasan dari teman-teman yang mengabarkan bahwa karena hujan deras, mereka pulang ke rumah dalam keadaan basah dan merasa tidak sanggup jalan lagi ke tempat pertemuan. Ada pula yang masih terjebak di suatu tempat dan tidak dapat datang. Ajaib! Semua membatalkan kedatangannya! Lalu apakah ada yang mencoba menanyakan posisi saya? Oh ada; hanya sebaris kalimat di akhir email salah seorang peserta saja yang menanyakan apa saya setuju untuk reschedule pertemuan itu. Saya cuma bisa terduduk lemas membaca pesan-pesan itu. Tidak ada seorang pun yang berinisiatif mengontak saya via telepon/SMS untuk mengabarkan pembatalan itu sementara saya sudah di perjalanan.

Saya berpikir dalam-dalam mencoba mencerna situasinya sembari duduk di restoran. Reaksi pertama: marah. Reaksi kedua: mencoba memahami kesulitan teman-teman. Ketiga: tetap saja tidak bisa menerima alasannya. Tapi akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan: teman-teman saya yang baik itu telah cacat dalam menjalankan sebuah komitmen. Saya katakan ‘cacat’ dan bukan ‘gagal’, karena mereka melakukan itu tanpa sengaja dan tidak ada maksud menelantarkan saya. Komitmen yang tadinya pasti, ternyata bukanlah komitmen penuh karena mudah ditarik kembali kala situasi tidak memungkinkan. Meski akhirnya ada satu orang yang tetap berusaha menemui saya setelah menerjang kondisi macet Jakarta dan terlambat sampai 3 jam, tetap saya berpendapat bahwa komitmen awal itu telah cacat.

Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus berpikir ulang mengenai prospek kerja sama kita ke depan. “Kecelakaan kecil” di awal, meski dapat dimaafkan, bisa jadi merupakan gambaran masa depan apabila tidak diluruskan dari semula. Komitmen yang mudah digugurkan oleh karena sebuah hambatan akan mencerminkan tidak kuatnya jalinan kerja sama yang akan berjalan di masa depan dan mudah runtuh oleh karena situasi yang tidak menguntungkan. Ini adalah pertanda yang kurang baik.

Lalu bagaimana? Dapatkah situasi ini dimaafkan dan diubah agar tidak terulang lagi?! Saya pikir itu mungkin saja. Saya pun paham bahwa kecacatan seperti ini, meski terlanjur dicatat, dapat diperbaiki. Namun sepertinya butuh pembicaraan yang mendalam lagi tentang motivasi dan komitmen masing-masing untuk bekerja sama. Kita mesti sama-sama membedakan mana pertemanan dan mana bisnis; mana kumpul-kumpul santai dan mana komitmen yang menuntut profesionalisme.

Hal ini telah menjadi pelajaran berharga bagi saya. Semoga Anda juga dapat memetik pelajarannya. Saya mohon maaf apabila ada kalimat yang menyinggung Anda. Saya percaya bahwa kawan-kawan yang berkunjung ke blog saya adalah kawan-kawan yang arif dan dapat mengerti maksud baik saya. Semoga pertemanan kita yang baik dapat terus terpelihara.

Jabat erat,

indobrad

source: molding-solutions.com
Advertisements

22 thoughts on “Cacatnya Sebuah Komitmen

  1. Guilty as charged..
    Gua ga bisa ngomong apa2 selain minta maaf lagi..
    Semoga “cacat” ini ga menyurutkan rencana awal kita dan menjadi pelajaran yang berharga buat langkah selanjutnya

    Like

  2. Bersyarikat alias bekerja atau berorganisasi bersama, perlu komitment yang kuat. Dan komitment tersebut janganlah cacat. Karena dari hal seperti ini kita bisa menilai karakter masing-masing pihak.

    Salam semangat!

    Like

  3. Wew, jadi pelajaran berharga buat saya. Meski sekarang teknologi online sudah jamak digunakan, tetapi sms masih juga diperlukan. Saya sering juga mengalami, teman janjian lewat mention di twitter, padahal hand phone saya rusak dan sulit untuk online.

    Untung “sulit” bukan “tidak bisa”. Jadi saya yang ngalah, kalau lagi janjian, ya dipaksain cek semua jaringan internet, siapa tahu informasi ada di sana.

    Like

  4. sudah jarang lagi berkomitmen (secara lebih serius) karena ujung2nya saya sering menghadapi hal seperti di atas (doh)

    kalo skrng2 mah seringnya *wokeh siyap, tp gimana nanti ayh* (lol)

    Like

  5. ckck yang sabar ya bang
    emang males banget dah kalo pas kita udah dateng di tempat yang udah disepakati bersama, eh tapi yang laen malah ngebatalin tiba2

    ckck

    Like

  6. Jadi tergerak memberi komentar, Om Brad. Komitmen umumnya dibangun antarmanusia sehingga kita hanya menyandarkan harapan pada manusia. Yang sering dilupakan adalah bahwa manusia tidak pernah luput dari lalai dan lupa juga lemah atas hambatan di luar kemampuannya. Sudah semestinya komitmen yang dibangun antarmanusia diiringi komitmen dengan Sang Pencipta (niat ikhlas), sehingga segala sesuatu disandarkan tidak lagi pada manusia tetapi pada Sang Pengatur. “Insya’Allah”, bukanlah penghias bibir tetapi komitmen kepada Allah (tawakkal), sisanya tentu usaha untuk konsisten (ikhtiar). Ketika cacat itu melukai komitmen, maka ingatlah hanya kita juga yang bisa memulihkan bukan (dengan pertolongan Allah tentu) … Btw, saya setuju dengan Om Brad, “mbok” kalo gak bisa datang telpon atau SMS gitu, apa susahnya sih πŸ˜€

    Like

    1. hehehe, thanks atas komentarnya. itu saya paham. makanya saya cuma menyebut cacat, yg berarti masih bisa diperbaiki. itu bukan kayak cacat anggota tubuh lo ya. tapi diibaratkan kayak barang yg baru beli tapi ada sedikit goresan cacatnya. masih bisa dipoles dan dipakai kan πŸ˜€

      btw besok ditunggu di PB ya πŸ˜€

      Like

  7. memang sulit sekali menerima kenyataan, seolah kita disendirikan oleh cacatnya komitmen teman-teman. mereka seolah tak menghargai kesepakatan bersama. padahal untuk sampai di sebuah lokasi di Jakarta, kita harus menambal kesabaran dalam kemacetan yang menyesakkan. semoga saja dengan tulisan kang Brad, teman2 dapat memperbaiki sikap.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s