Ragam Kearifan Lokal di Perpustakaan

Indonesia Book Fair 2010 telah selesai digelar selama sepekan pada tanggal 2-10 Oktober 2010 lalu. Ajang pameran buku ini adalah event tahunan kedua selain Pesta Buku Jakarta yang biasanya berlangsung pada pertengahan tahun. Setelah tahun lalu Indonesia Book Fair 2009 diadakan di JCC Jakarta, kali ini IBF 2010 bertempat di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Saya berkesempatan mengunjungi pameran buku ini dalam 2 hari dan banyak kesan yang didapat.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Ikapi dan kerja keras pihak penyelenggara, saya melihat bahwa pameran kali ini skalanya lebih kecil daripada tahun lalu. Ini terlihat dari pemilihan venue di Istora yang tidak cukup menampung jumlah peserta pameran sebanyak tahun kemarin. Kemudian partisipasi peserta asing yang tahun lalu cukup beragam yakni dari Iran, Brunei Darussalam, Malaysia, dan ISEAS, tahun ini hanya memasukkan Asosiasi Penerbit Buku Malaysia (MABOPA) saja sebagai peserta. Itu pun setelah dikunjungi, ternyata MABOPA hanya menyewa 2 booth yang “kosong” alias tidak diisi sama sekali kecuali brosur-brosur KL Book Fair dan tanpa dijaga seorang pun. Saya menduga memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia akhir-akhir ini turut membuat peserta dari Malaysia tersebut ragu-ragu untuk datang. Namun absennya penerbit Malaysia ini cukup tergantikan oleh event “Meet & Greet” pengisi suara Upin & Ipin yang cukup menyedot perhatian pengunjung. Saya sempat kecewa karena tidak menemukan stand Dewan Bahasa & Pustaka Brunei di sini; sudah 2 tahun terakhir ini saya membeli buku-buku terbitan DBP karena ingin mengintip sastra Melayu Brunei, dan sungguh menarik membaca prosa dan puisi yang mereka terbitkan. Selebihnya stand-stand diisi oleh penerbit buku yang sudah biasa berpameran di Jakarta, namun lagi-lagi saya melihat tidak semua penerbit berpartisipasi. Meski demikian, ada yang berbeda di salah satu sayap Istora pada kali ini. Apakah itu?

Salah satu sayap di gedung Istora ini dikhususkan bagi Indonesia Library & Publisher Expo 2010. Isinya adalah pameran perpustakaan nasional dan beberapa perpustakaan daerah, perpustakaan Mahkamah Konstitusi, dan IKAPI Riau. Sayangnya hanya beberapa perpustakaan daerah yang turut serta padahal space sayap ini masih banyak kalau ingin dimaksimalkan; sisa space malah diisi oleh penerbit buku, toko buku bekas, bahkan kursus bahasa asing. Mari kita telusuri beberapa perpustakaan daerah ini beserta koleksi-koleksinya.

1. Perpustakaan Nasional RI

Inilah stand Perpustakaan terbesar di Indonesia dengan koleksinya yang mencapai angka jutaan (data Desember 1999 menyebutkan 1,1 juta) eksemplar dengan koleksi tertua berasal dari tahun 1500-an. Namun koleksi-koleksi dipamerkan pada Expo kali ini tidak banyak, hanya beberapa buku dan jurnal dari tahun 1800-an dalam Bahasa Inggris dan Belanda serta buku dan jurnal dari tahun 1900-an dalam Bahasa Belanda, Inggris, Indonesia, dan Sunda (tentu masih dengan Ejaan Lama yang memusingkan). Berikut beberapa gambar koleksinya:

Jurnal Parahiangan (Balai Pustaka, 1941), berbahasa Sunda
Iklan Obat Gosok Gigi (Parahiangan, Balai Pustaka, 1941)
Buku panduan wisata Hindia Belanda, circa 1936

Selain koleksi buku, jurnal dan manuskrip dalam bentuk fisik, Perpustakaan Nasional RI juga sedang dalam proses memindahkan koleksi tua yang sudah rapuh ke platform digital. Jurnal Parahiangan (1941) dan Bintang Hindia (1905), yang kertasnya belum terlalu rusak, masih dapat diawetkan dengan cara ditutupi dengan kertas tissue Jepang sehingga bentuk fisiknya masih dapat dibaca. Namun untuk media lain seperti lontar atau kertas yang sudah rapuh, media mikrofilm dan digital dipergunakan agar isinya masih dapat dibaca tanpa merusak fisiknya lebih jauh. Selain layanan tertutup di kantor Salemba (koleksi hanya dapat dibaca di tempat), ada pula layanan terbuka di kantor Medan Merdeka Selatan di mana masyarakat umum dapat meminjam buku-buku perpustakaan; hanya saja buku-buku yang dapat dipinjamkan tidak termasuk koleksi lama dan langka. Sebagian koleksi digital dan layanan katalog sudah dapat didapat secara online.

Terima kasih banyak kepada Mas Ali dan Mbak Ita yang telah mengizinkan saya memotret beberapa koleksinya πŸ™‚

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di portal Perpustakaan Nasional RI.

2. Perpustakaan Daerah Provinsi Papua

Stand perpustakaan yang berkantor di Jayapura ini memajang buku-buku dari divisi perpustakaan yang khusus mengoleksi terbitan lokal Papua, atau pun terbitan luar Papua yang memiliki konten Papua. Perpustakaan ini memiliki sekitar 6000 koleksi yang bertema lokal dari total 20.000 koleksi perpustakaannya. Saya disambut ramah oleh Pak Mochtar yang asli Ternate namun besar di Papua yang lalu menunjukkan saya sebuah peta bahasa-bahasa di daerah Papua.

Peta Bahasa Papua (sumber: Papua Web)

Pak Mochtar menjelaskan bahwa ada 278 bahasa daerah yang tercatat di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Bahasa Dani memiliki penutur sekitar 100.000 orang lebih dan merupakan bahasa terbesar di Papua, sedangkan bahasa-bahasa lain memiliki penutur yang lebih kecil bahkan ada bahasa yang penuturnya hanya tersisa 50 orang. Bahasa-bahasa ini benar-benar berdiri sendiri dan tidak ada lingua franca yang mempersatukan seluruh masyarakat Papua kecuali Bahasa Indonesia. Oleh karena kondisi alam Papua yang bergunung-gunung dan masyarakatnya banyak terisolasi di kampung-kampung tertentu dengan akses terbatas ke daerah lain, bahasa-bahasa ini juga terisolasi di daerah tersebut. Misalnya 2 buah kampung di sekitar Jayapura yang hanya berjarak 5 kilometer satu sama lain; kedua kampung ini memiliki bahasa masing-masing dan penduduknya langsung tidak mengerti bahasa kampung sebelahnya ketika mereka berkunjung dan hanya bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa daerah dengan penutur yang sedikit ini terancam kepunahan dalam 150 tahun mendatang seiring berlalunya generasi penutur bahasa tersebut. Sebuah kenyataan yang menyedihkan.

Gambar peta bahasa-bahasa di Papua dapat dilihat di sini.

3. Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah

Just kidding! Stand perpustakaan Sulteng tampak kosong melompong dan hari berikutnya diisi oleh Stand Perpustakaan Kabupaten Waropen, Papua.

4. Perpustakaan Daerah Kabupaten Waropen

Kabupaten Waropen adalah pemekaran dari Kabupaten Yapen-Waropen dengan ibukota barunya di Botawa, Pulau Yapen. Perpustakaan Daerah Kabupaten Waropen sendiri baru berusia 2 tahun dan koleksinya masih terbatas pada peraturan dan terbitan pemerintah. Koleksi lokal sendiri baru ada 3 eksemplar; salah satunya adalah buku Kumpulan Cerita Rakyat Waropen yang terbit dalam Bahasa Waropen dan Bahasa Indonesia. Saya sempat membaca kisah Sumundui, seekor ular besar penjaga Sungai Kowera yang hendak memperistri kakak-beradik Sasandewini dan Suntre secara paksa.

Tertarik membaca ceritanya? Tersedia secara gratis di sini.

5. Perpustakaan Daerah Nusa Tenggara Timur

Stand Perpustakaan Daerah Nusa Tenggara Timur tampil bersahaja dengan koleksi-koleksi buku dan jurnal terbitan lokal. Meski sederhana, koleksi buku-buku muatan lokal justru lebih banyak dipajang sehingga tetap menarik untuk dibaca. Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini sedang menggalakkan gerakan pangan lokal dan ada sebuah buku yang berjudul Ziarah Pangan Lokal NTT yang membahas aspek-aspek ketahanan pangan di NTT secara komprehensif. Namun ada satu yang mengganggu: para penjaga stand tidak mempedulikan pengunjung dan terus saja tunduk membaca. Hmm, bagaimana ini?!

Buku lain yang menarik untuk dibaca adalah tentang kehidupan orang Rembong di Pulau Flores. Tertarik membacanya? Google Books dengan baik hati menyediakannya untuk kita secara gratis. Dapat dibaca di sini.

6. Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan

Meski tidak luas, stand Perpustakaan Sulsel tampak meriah dengan para pustakawan yang ramah menyambut pengunjung. Ada beberapa koleksi muatan lokal yang menarik seperti buku-buku tentang arsitektur Toraja, studi karya La Galigo, sampai buku-buku catatan lama yang ditulis dalam aksara Lontara, aksara asli dari Makassar. Berikut gambarnya.

Kisah Syekh Yusuf dalam Aksara Lontara

7. Perpustakaan Daerah Jawa Tengah

Stand Jawa Tengah tampak cukup sigap melayani pengunjung dan membagi-bagikan brosur dan jurnal Media Pustaka; sebuah cara yang jitu dalam mempromosikan perpustakaan secara komprehensif yang informasinya tidak mungkin didapat dari kunjungan sekilas saja. Sayangnya koleksi yang ditampilkan justru tidak banyak, hanya beberapa buku terbitan lokal yang salah satunya mengenai kisah Mahabaratta. Ibu Sri yang juga pustakawan di Semarang menyambut saya dengan ramah dan memuji-muji saya yang disangka masih mahasiswa (blushing).

Catatan Akhir

Sebenarnya masih ada beberapa perpustakan daerah lain yang berpameran di Istora namun tidak saya review oleh karena keterbatasan waktu (sebagian malah sudah tutup ketika saya datang di sore hari); antara lain DKI Jakarta (koleksi Staatsblad tahun 1800-an sangat menarik); Sumatera Utara (hampir tidak ada buku yang dipajang); IKAPI Riau (koleksi sastranya cukup menarik); Mahkamah Konstitusi (ada beberapa UU yang sudah diterjemahkan ke bahasa daerah); Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan beberapa lainnya. Kalau kita berbicara mengenai koleksi dan layanan perpustakaan, akan terungkap bahwa permasalahan klasik yang dihadapi para pustakawan kita adalah minimnya fasilitas dan anggaran. Anggaran terbatas yang dikucurkan pemerintah membuat koleksi buku-buku di daerah sulit berkembang pesat dan terbatas pada koleksi lokal dan beberapa buku referensi saja. Kemudian ketiadaan infrastruktur teknologi menyulitkan koleksi-koleksi tersebut untuk dipindahkan ke platform digital guna menjamin kelestarian akses informasinya. Masalah lain yang saya perhatikan adalah kesiapan para pustakawan dalam melayani pengunjung yang perlu terus ditingkatkan. Dari beberapa foto yang saya saksikan di stand Kalimantan Barat, misalnya, tampak bahwa para pustakawan bersemangat meningkatkan mutu layanan melalui serangkaian pelatihan; sebuah gambaran yang sangat baik.

Kesan utama yang saya dapat di akhir kunjungan ke pameran ini adalah bahwa bangsa Indonesia memiliki tradisi tulisan yang sangat kuat dan koleksi buku-buku perpustakaan daerah sangat mencerminkan keragaman kearifan lokal yang sungguh mengasyikkan untuk dieksplorasi. Dari kumpulan cerita rakyat, misalnya, saya dapat mempelajari budaya masyarakat lokal dan cara mereka memandang alam sekitarnya yang berbeda dari satu pulau ke pulau lain. Kumpulan puisi mencerminkan pergulatan pemikiran para penyairnya dan ragam dokumentasi dalam bahasa lokal mencerminkan upaya masyarakat melestarikan bahasa daerahnya.

Kunjungan ke pameran, yang tadinya bertujuan untuk berburu buku-buku diskon, berubah menjadi ajang perjumpaan saya dengan budaya beberapa daerah di Indonesia yang sangat membangkitkan inspirasi. Keragaman kearifan lokal ini, yang sayangnya jarang bisa ditemukan buku-bukunya di toko buku umum di Jakarta, menjadi saksi perkembangan masyarakat kita dan mencerminkan betapa tingginya budaya bangsa kita. Melalui buku, saya dapat belajar banyak tentang budaya tertentu ketika belum berkesempatan mengunjungi langsung daerahnya. Wah, saya jadi ingin mengeksplorasi lebih banyak, belajar lebih banyak, bahkan berkunjung ke berbagai daerah lebih sering. Buku, memang jendela dunia.

Indonesia Book Fair (sumber: Kompas.com)

====

Foto-foto di postingan ini, kecuali disebutkan sumbernya, adalah koleksi pribadi.

Tulisan ini disertakan pada Writing Contest Pesta Blogger+ 2010

Advertisements

51 thoughts on “Ragam Kearifan Lokal di Perpustakaan

  1. wah, jalan-jalan ke sana
    menemukan keindahan budaya tiap daerah

    bukankah buku adalah jendela ilmu
    dan kali ini jendela itu untuk menatap kearifan lokal

    jadi, beli berapa buku untuk saya? *lho* πŸ˜€

    Like

  2. sepakat banget, mas. perpustakaan bisa menjadi sumber kearifan lokal yang menjanjikan. hal ini bisa terwujud jika para penerbit memiliki “kemauan politik” utk melirik budaya lokal dengan segenap kearifannya ke dalam sebuah buku. semoga event Indonesia Book Fair 2009 bisa terus digelar tiap tahun. sayangnya utk th 2010 rasanya seperti mengalami set-back.

    Like

    1. Ooh “kemauan politik” sebetulnya sudah ada kok mas. Lihat saja Yayasan Obor yang konsisten menerbitkan buku berkualitas meski gak populer di pasar, salah satunya seri Tradisi Lisan Nusantara. Yang mesti digalakkan adalah promosi ke masyarakat agar semakin banyak orang mengenal dan mencintai karya sastra Indonesia yang beragam bahasanya. πŸ˜€

      Like

  3. Masalahnya niat baca remaja sekarang berkurang kayanya, terutama untuk bacaan2 yang agak “berat” untuk dikonsumsi. Jadi bagus juga untuk memperkenalkan perpustakaan di book fair ini, sehingga banyak yang tau dan mendapatkan pengalaman baru.. Tak kenal maka tak sayang πŸ™‚

    Like

  4. saya jarang sekali bisa berkunjung ke acara book fair, padahal suka dengan yang namanya buku. pernah ke acara jogja book fair beberapa tahun silam namun menemukan buku2 lama dan kurang variatif. Menilik di stand daerah, betul sekali kental dengan budaya sekitar dan ini baik menurut saya karena sekarang sejarah atau ilmu ips anak sekolah kurang mengenalkan indonesia. Terbukti anak saya midnya skala budaya nasional, tapi panduannya cuma gambar tanpa detail penjelasan.

    Like

  5. Wah! Mata saya langsung berbinar-binar begitu melihat peta bahasa daerah Pulau Papua! Menakjubkan! Dalam satu pulau ternyata ada 278 bahasa daerah dan masing-masing diantara bahasa daerah tersebut tidak saling mengenal satu sama lain! Menarik!

    Oom, ternyata standa perpustakaan daerah itu menarik yach. Kita bisa melihat kearifan budaya lokal dan literatur dalam bahasa lokal yang disediakan oleh perpustakaan. Saya setuju banged, Indonesia sangat kaya akan ragam budaya πŸ˜€

    soal stand NTT

    Namun ada satu yang mengganggu: para penjaga stand tidak mempedulikan pengunjung dan terus saja tunduk membaca. Hmm, bagaimana ini?! saya pernah mengalami hal serupa ketika menghadiri Wasyantara, pameran kain Nusantara. Di stand NTT, Mama-Mama itu hanya berjaga dan asyik mengobrol satu sama lain. sonde perduli beta mau lihat tu kain ikat NTT atau sonde. Sonde ada penjelasan, beta juga malas bertanya jadix. :p

    Like

    1. *heran, kok komentarmu masuk moderasi lagi ya?*

      Peta bahasa Papua memang menakjubkan. Sebenarnya hal yang sama ada juga di Flores dan Sumba. Soal stand, kesigapan stand NTT kalah jauh dengan Papua, padahal koleksinya masih lebih banyak di stand NTT lo. Pelatihan pustakawan memang harus terus ditingkatkan tampaknya.

      Btw coba search “Tradisi Lisan Nusantara” di google, kamu akan ketemu buku cerita rakyat gratis yg sudah diunggah ke Google Books. Rata2 dalam bahasa daerah disertai terjemahan dalam bahasa indonesia. πŸ˜€

      Like

      1. Oya? komentarku masuk moderasi lagi? hmm…apakah ada bahasa yang menganggu, salah atau diindikasikan sebagai spam yach? atau jangan-jangan…. *nangis di pojokan ruangan yang remang-remang sambil menghadap tembok*

        saya kagum dech sama orang-orang yang peduli sama akar budaya lokal yang ada di masyarakat mereka sendiri. Justru karena merekalah, tradisi lokal, minor atau mayoritas bisa bertahan dari gerusan jaman. salut banget! Soal pelatihan, memang sesuatu yang tampaknya wajib sekali diberikan kepada para pustakawan muda maupun orang-orang yang bergerak di bidang serupa. Tujuannya sih sederhana saja, agar mereka mau lebih ‘menyapa’ orang lain dan tidak pelit informasi πŸ™‚ Beberapa cerita rakyat yang ada di googlebooks itu, saya punya loh edisi cetaknya. Saya mengumpulkannya dari jaman kecil dulu, waktu harganya masih Rp. 750 sebuah πŸ˜€

        oh, satu lagi, perpustakaan lokal yang pernah saya masuki hanyalah Perpustakaan Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Lumayan, sambil nunggu hujan reda, saya belajar banyak tentang Kalimantan Selatan. Hehehehe

        Like

  6. waaa..acaranya keren banget tuh kayaknya..
    coba ada acara kek gini juga buat kami2 yang ada di pedalaman ini..

    sebagai tambahan aja, generasi muda Makassar sekarang ini udah banyak yang gak bisa baca hurup lontarak..(termasuk saya.., hehehe)
    di sekolah sih diajarin, tapi kemudian karena sehari-harinya gak diajarin makanya jadi pada lupa deh tuh..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s