Bertaruh Nyawa di Margonda Raya

Depok, 17 Juli 2010

Kaki melangkah memasuki halaman Universitas Gunadarma di Jalan Margonda Raya yang pagi itu ketempatan sebagai lokasi seminar Bisnis Online yang diadakan oleh TDA Depok (reportase menyusul). Sabtu pagi itu cerah dan para mahasiswa yang masih ada kuliah di akhir pekan tersebut berceloteh ramai. Tiba-tiba saya teringat pada suasana Sabtu pagi di kampus saya sendiri yang terletak di belakang kampus Gunadarma ini. Sewaktu saya masih kuliah dulu, Sabtu pagi-pagi begini juga kerap diisi kegiatan kuliah atau kemahasiswaan lainnya. Saya pun setiap hari melewati Jalan Margonda Raya ini, meski biasanya saya hanya turun angkot di Kober dan agak jarang menyusurinya sampai ke Kampus Gunadarma.

Ah, tiba-tiba saya teringat sebuah kejadian di semester pertama saya kuliah. Masih pada Sabtu pagi yang cerah juga. Saya, yang baru beberapa minggu kuliah, melangkah mantap menyeberang jalan Margonda untuk memasuki Gang Kober. Lalu lintas padat dan ramai. Ketika menyeberang jalan, saya terpaksa berhenti persis di tengah-tengah lajur karena waktu itu belum ada pembatas lajur. Tak disangka tak dinyana, meski setiap arah sudah dipenuhi oleh dua lajur, ada sebuah mobil nekat menyalip dari kanan. Maksudnya untuk mendahului, tapi celakanya dia justru membuat lajur ketiga sekaligus menantang mobil dari arah berlawanan, dan…, terlambat mengantisipasi penyeberang jalan yang sedang menunggu lajur clear tepat di tengah jalan. Jadilah saya terhantam mobil tersebut…

Rasanya gimana ya? Terus terang tidak sempat merasa sakit ketika ditabrak. Yang saya ingat adalah tiba-tiba saya terguling-guling di jalan. Yang cuma terpikir waktu itu adalah “Jangan sampai terlindas mobil.” Oleh karena itu secara refleks saya berdiri. Praise the Lord! Saya tidak menderita luka sama sekali bahkan tergores pun tidak. Lalu tampaklah si penabrak tersebut keluar dari mobil dan menghampiri saya. Namun saya yang waktu itu gemetaran malah hanya mengibaskan tangan, lanjut menyebrang jalan, dan berlalu begitu saja. Bodohkah saya karena tidak meminta pertanggungjawaban si pengemudi? Mungkin. Tapi waktu itu pikiran saya kalut dan takut urusannya menjadi panjang sedangkan saya menghadapi tes di kampus pagi itu. Jadi pikiran pendek saya cuma berkata, “Sudahlah.”

Cerita saya tentu hanyalah kejadian “biasa” dibandingkan jumlah angka kecelakaan yang terjadi di Margonda. Saya teringat sewaktu saya masih kuliah, sebuah angkot ngebut ugal-ugalan di jalan dan menyalip kendaraan di lajur kanan dan terlambat menghindari mobil yang melaju dari arah berlawanan. Kedua kendaraan tersebut bertabrakan dan angkot tersebut terguling-guling, tidak jauh dari Kampus Gunadarma. Akibatnya, seluruh penumpang di angkot tersebut tewas. Menyedihkan bukan? Belum lagi kasus penyebrang jalan yang sering tertabrak mobil.

Satu hal yang sering dikeluhkan warga adalah kondisi Jalan Margonda yang ramai namun tidak dilengkapi jembatan penyebrangan. Ironisnya, jembatan tersebut baru dibangun persis di depan Terminal Depok dan Plaza Depok, lalu di depan Margo City dan Detos saja, seolah menegaskan bahwa kepentingan komersial harus didahulukan. Padahal mahasiswa yang berlalu-lalang di depan Kampus Gunadarma dan Gang Kober juga tidak kalah banyak namun seakan tidak dipedulikan oleh Pemkot Depok. Apalagi kedua kawasan tersebut sudah ramai sejak tahun 90-an, namun setiap hari mahasiswa bagaikan bertaruh nyawa ketika hendak menyebrang jalan atau rel kereta api.

Lalu bagaimana dengan kondisi Jalan Margonda Raya sekarang? Jalan ini sudah bertambah lebar, namun ironisnya, belum banyak berubah. Masih ramai dan tambah macet, fasilitas untuk pejalan kaki minim bahkan bisa dikatakan tidak ada, dan kalau hujan air mengalir liar karena tidak ada gorong-gorong. Lalu proyek pelebaran dan perbaikan jalan seolah tidak ada habisnya. Saya mulai menyusuri lagi Jalan Margonda pada bulan Maret 2010 dan sampai sekarang proyek tersebut belum selesai. Bahkan kondisi beton pembatas kedua jalur di tengah jalan sungguh menyedihkan: penuh lubang menganga setiap 10 meter disertai kabel listrik yang mencuat kemana-mana.

Bagaimana ini, Pak Wali? Sebentar lagi Pemilukada, lho πŸ˜€

Advertisements

16 thoughts on “Bertaruh Nyawa di Margonda Raya

  1. bener sob..margonda aduh..cape lihat macet, mobil, motor banyak bgt.pusing sobb, bahaya sebenarnya kenderaan melaju cepet betul…penyebrangan terbatas lg

    Like

    1. melaju cepat gak sepenuhnya benar sih bro, secara margonda sekarang udah macet banget. haha. tapi tetep aja serem kalo mau nyebrang. pas sampe tengah jalan juga panik mesti menghindari lubang besar. *lelah*

      Like

  2. Gile juga lu ye ampe terguling-guling gitu.. tapi untunglah gak kenapa-napa.

    Gw biasanya suka senewen dengan pengendara mobil-motor yang melintas di sana, gak jarang suka beradu mulut dengan mereka. Jalanan memang sudah tidak ramah. Itu salah satu alasan saya memilih kereta, jadi tidak perlu capek setiap hari stress dengan kondisi seperti ini.

    Berharap Walikota kita kayak di Jembrana atau Sragen ^^,

    Like

  3. Ow…praise the Lord! untunglah dorang baik baik saja πŸ˜€ ya, saya pernah ke ITC Depok dan Margo City, mau jalan jalan ceritanya. Padahal hari itu adalah hari minggu…tapi….Ya ampyunnnn…..muacet cet cet cet cet cet…macetnya mengular dari exit Pasar Minggu ke arah Depok sampai arah Depok II. Wow! hihihi…jalanannya sayangnya nggak terlalu lebar. sayang yach, padahal Margonda kan salah satu jalanan utama dan terbesar di Depok. harusnya dibenahi gitu lah yach….

    hmm…di Margo City, saya juga mengalami kejadian yang agak2 menyebalkan. Sepanjang umur saya, baru kali ini saya kecurian helm. Helmnya juga bukan helm bagus. Tapi helm catok *hahahaha*. Konyol kan? buat apa sich helm kayak gt dicuri? akhirnya, saya masuk carrefour untuk membeli helm baru. Di mall-mall manapun, saya selalu menggantung helm di cantelan motor. Tapi Puji Tuhan, tidak pernah hilang. Hehehe…waduh, jadi curcol nich…hahaha

    Like

  4. , saya mah malah pernah tabrakan motor sma motor om,, tapi alhamdulillah ndak parah,,

    wah kapan ada seminar bisnis online?,,wah ndak ngajak2 nich,,, :(,,rame gak
    btw gimana hasinlnya??

    Like

  5. Iya sih om..Jalan Margonda ramai bener.apalagi kalau pagi-pagi. Saya aja gak berani nyebrang kalau keramaian, Apalagi sekarang sudah diperlebar jalannya. semakin jauh deh jarak untuk menyebrang.. Tapi tetap waspada aja om selagi menyebrang jalan.:D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s