Bromo Budget Travel

I created an update of this article in English. Check it out

August 2008

Hari beranjak terang ketika kereta memasuki stasiun Madiun pada Kamis pagi (21/Agustus/2008) itu. Mata masih memerah karena hampir tidak bisa tidur semalaman sepanjang perjalanan. Well, lebih tepatnya sesubuhan, secara kereta saya berangkat pukul 3 pagi dari Stasiun Tugu Yogyakarta.

Terakhir kali saya melalui Jawa Timur via darat adalah pada tahun 1997 dengan tujuan akhir Malang sebelum mendaki ke Tosari untuk selanjutnya ke Bromo. Namun kali ini saya menyusuri rute berbeda yaitu Surabaya – Probolinggo – Cemoro Lawang. Menurut sharing beberapa blogger, rute ini relatif lebih mudah dan murah. Setelah menemui seorang teman yang tinggal di Surabaya dan bertemu dengan anaknya yang lucu, saya diantar ke Terminal Bis Bungurasih yang letaknya tidak jauh dari Bandara Juanda. Dengan ongkos bis seharga Rp 23,000.-, saya berangkat menempuh perjalanan sejauh 2.5 jam ke Probolinggo. Paragraf berikutnya adalah rute perjalanan saya beserta biaya yang dikeluarkan.

Probolinggo – Cemoro Lawang

Setibanya di Probolinggo, kita harus melangkah keluar terminal bis menuju tepi jalan utama di sebelah kanan terminal. Di sana kita akan menemukan pangkalan kendaraan L300 yang akan mengantar kita langsung ke Cemoro Lawang, desa terakhir sebelum Bromo. Ongkos angkutan yang umum adalah Rp 25,000.- meski penduduk local hanya akan membayar Rp 20,000.-. Satu tips dari saya, bila ingin naik kendaraan ini, pastikan Anda sudah sampai di terminal bis Probolinggo sebelum jam 4 sore karena angkutan ini ngetem-nya lama banget dan bisa-bisa jam 6 sore kita baru benar-benar berangkat. Lepas dari jam 5.30 sore, kita hampir tidak bisa lagi menaiki kendaraan ini dan satu2nya jalan adalah menyewa satu unit angkutan dengan biaya Rp 150,000.- s/d 200,000.-. Kalau kamu sampai terlambat tiba di terminal bis, sebaiknya kamu banting stir dengan menginap di Probolinggo saja untuk semalam karena jatuhnya lebih murah. Untuk menginap, terdapat satu hotel murah kira2 200 meter dari terminal yaitu Hotel Moronyoto dengan tarif ekonomis mulai dari Rp 50,000.- untuk 24 jam. Terdapat pula Hotel Bromo View yang tidak jauh dari sana dengan tarif menengah ke atas.

OK, asumsi saya kamu sudah naik L300 ke Cemoro Lawang ya?! Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam karena angkot sering berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. Nah, begitu sampai di Cemoro Lawang, L300 akan berhenti di “halte” pertama yaitu Hotel Cemara Indah. Tarif menginap di sini mulai dari Rp 75,000.- untuk kamar Spartan tanpa air panas. Opsi lainnya adalah homestay yang tersedia di rumah-rumah penduduk dengan tarif mulai dari 40ribu rupiah. Tapi kalo saya pribadi sih gak menyarankan kamu untuk tinggal di sana karena suasananya rada spooky, hehe. Di hotel aja lah, lebih tenteram.

Cemoro Lawang – Bromo

Sebenarnya para wisatawan umumnya tidak langsung menuju Bromo. Melainkan mereka terlebih dahulu naik ke Gunung Penanjakan untuk melihat matahari terbit, baru sesudah itu turun lagi melintasi padang pasir menuju Bromo. Nah, saya memutuskan untuk tidak naik ke Penanjakan karena pertimbangan ingin menghemat uang. Sebab saya harus membayar sekitar 80ribu untuk perjalanan jeep CML – Penanjakan – Bromo – CML. Rugi aja rasanya, lagian sunrise juga bisa diliat dari Bromo, gitu piker saya. Maka saya memilih untuk berjalan kaki (yep, jalan kaki) dari hotel menuju Bromo. Saya berangkat pukul 3 pagi berombongan dengan temen2 seperjalanan yang saya temui, termasuk beberapa bule. Heheh. Perjalanan memakan waktu sekitar 1.5 jam (karena saya milih nyantai dan banyak istirahat). Medannya gak berat kok. Dari Cemoro Lawang kita menuruni bukit melalui jalan beraspal kemudian melalui dataran padang pasir dengan rute yang jelas berkat adanya patok-patok penunjuk jalan. Tapi ya lumayan berdebu sih karena mobil2 jeep pengangkut turis seenaknya ngebut sambil menerbangkan debu kemana-mana. Sampai di kaki gunung Bromo, mulailah sedikit perjalanan mendaki dan diakhiri dengan menaiki anak tangga sebelum mencapai tepi kawah. Wah, segala kepenatan terbayar sudah. Setelah puas mengitari kawah, saya berjalan pulang kembali ke hotel. Medan juga tidak terlalu berat, hanya pada saat mendaki bukit (eh salah, mendaki jalan) saya rada ngos-ngosan.

Setelah kembali ke hotel dan istirahat, tibalah saatnya kembali ke Probolinggo. Tarif L300-nya sama, 25ribu aja. Cuma lama nunggu penumpangnya aja yang bikin saya begah bener di dalam mobil.

Biaya

Transport Surabaya – Probolinggo pp. : 2 x Rp 23,000.- (bis murah Rp 14,000.-/trip)

Transport Probolinggo – Cemoro Lawang pp. : 2 x Rp 25,000.-

Hotel Cemara Indah : Rp 75,000.- per kamar

Jeep hotel – Penanjakan – Bromo pp : Rp 80,000.- per orang

Makan : gak ngitung, tapi dijamin gak diketok kok harganya

Hotel di Probolinggo (optional) : Rp 50,000.-

Advertisements

6 thoughts on “Bromo Budget Travel

  1. wah seru za…
    kebetulan saya bulan november akan ke bromo. bisa updet rute dr surabaya-malang-bromo-pananjakan-cemoro lawang yang bisa dg tarif murah meriah.
    thks za atas infonya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s