Riuh-rendah Apotek Rakyat

Anda atau keluarga Anda sakit dan Anda harus membeli obat dengan harga mahal? Obat Anda adalah resep dokter yang tidak tersedia di apotek dekat rumah? Atau Anda ingin membuka apotek dan memerlukan suplai obat-obatan dan alat-alat kesehatan dengan kualitas baik dan harga bersaing? Tidak perlu kuatir. Ada sebuah tempat di Jakarta yang bisa memenuhi semua kebutuhan Anda.

Pasar Pramuka di Jalan Pramuka, Jakarta, terkenal sejak dahulu sebagai pasar yang menjual bahan-bahan tekstil dan pakaian serta pasar burung. Namun belakangan pasar ini berubah fungsi menjadi pasar obat-obatan dan alat-alat kesehatan yang terjangkau bagi rakyat, alias berharga miring. Gedung utama pasar ini sudah terbilang modern sejak tahun 80-an dan semakin cantik dengan nuansa warna biru hasil renovasi terakhir. Di gedung berlantai empat ini, Anda akan menemui ratusan pedagang obat yang memenuhi hampir semua kios dari lantai dasar ke lantai teratas. Seiring dengan berkembangnya industri kesehatan di Indonesia dan kebutuhan masyarakat umum akan obat-obatan berkualitas baik dan berharga murah, lambat-laun pasar ini menangkap momentum dan menjadikannya pusat distribusi obat-obatan terkemuka di Indonesia untuk kelas menengah ke bawah. Meski sekarang berjamur jaringan apotik franchise dengan ruangan ber-AC dan layanan sekelas minimarket, Pasar Pramuka ini tidak pernah sepi pelanggan.

Masykur (30), adalah seorang mantan karyawan di sebuah apotek di Jakarta yang kemudian banting stir dengan menjadi distributor obat-obatan. Bermodalkan pengetahuan akan farmasi dan modal yang digabungkan dengan kedua temannya, ia membuka sebuah kios di lantai dasar. “Saya sudah dua tahun berdagang di sini, Mas,” ujarnya di sela-sela kesibukan melayani pelanggan ditemani seorang rekan usahanya dan seorang karyawati. Masykur kemudian bercerita bagaimana pasar ini berubah wajah menjadi pasar farmasi. Ia tidak ingat persis kapan mulainya pedagang obat-obatan “menyerbu” pasar ini. Namun ia bercerita bahwa awal mulanya dua orang bersaudara membuka kios obat-obatan di dalam pasar. Kebetulan Pasar Pramuka pada waktu itu agak sepi pengunjung oleh karena pembeli lebih tertarik berbelanja grosir tekstil dan pakaian di Pasar Tanah Abang. Namun ketika kedua kios itu bertambah ramai, maka rekan-rekannya lalu mengikuti jejak mereka membuka kios di pasar tersebut. Lama-kelamaan penuhlah pasar itu dengan pedagang obat.

Jaringan distribusi Pasar Pramuka tidak hanya seputar Jakarta, melainkan juga merambah ke daerah-daerah. Masykur misalnya, sudah terbiasa menangani permintaan pengusaha apotik dari Aceh, Kalimantan, dan beberapa kota di Jawa untuk suplai obat-obatan, atau untuk perusahaan/LSM yang hendak mengadakan pengobatan massal. Para pelanggannya banyak yang tinggal memesan dengan cara mengirimkan list obat-obatan yang diperlukan melalui faks, lalu Masykur tinggal memenuhi kebutuhan tersebut, mengirimkannya lewat kurir, dan menerima pembayaran. Namun banyak juga pembeli dari luar Jakarta yang sengaja datang ke pasar tersebut untuk berbelanja grosiran, seperti sepasang suami-istri yang datang dari Papua untuk mencari suplai obat-obatan. “Di sini lengkap,” ujar sang istri cerah.

Masykur, seorang drop out dari fakultas farmasi namun justru menjadi pengusaha farmasi ini, optimis dengan perkembangan bisnisnya. “Semua orang di sini jualan barang yang sama Mas, tapi rejeki mah bisa dari mana aja.” Dan kelihatannya ungkapan itu bukan tanpa alasan. Pasar tersebut tetap ramai menjelang tutup pada pukul lima sore.

Namun ramainya pasar ini bukannya tanpa cacat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak obat-obatan yang tidak memenuhi standar kesehatan dan lolos pengawasan Badan POM, alias palsu, yang memasuki pasar ini. Kalau pembeli tidak jeli melihat obat yang dibeli, salah-salah ia justru mendapat obat palsu yang malah merugikan kesehatannya. Setelah sekian lama pemerintah tidak terlihat mengambil tindakan, barulah Ibu Siti Fadilah Supari (Menkes 2004-2009) yang kemudian melakukan pengawasan menyeluruh terhadap distribusi obat di pasar itu dan meluncurkan program “Apotek Rakyat.” Program Apotek Rakyat yang diresmikan tanggal 3 April 2007 ini mengubah 92 toko obat di Pasar Pramuka menjadi Apotek Rakyat. Selain mewajibkan para pedagang memiliki sertifikat, para apotek tersebut diharuskan memiliki apoteker yang bertugas memeriksa resep dokter dan memberikan obat sesuai jumlah/dosis yang dipersyaratkan dokter.

Kita memang bersyukur dengan hadirnya Apotek Rakyat yang melayani kebutuhan masyarakat kecil seperti Pasar Pramuka. Namun sebagai pembeli, selayaknya kita teliti sebelum membeli. Pastikan Anda membeli dari pedagang yang Anda percayai. Obat-obatan yang Anda dapatkan juga harus memenuhi standar; bukan barang yang tidak jelas berasal dari pabrik farmasi mana. Lalu perhatikan betul kualitas kemasan obat dan tanggal kadaluarsanya. Memang banyak pilihan yang murah, namun jangan sampai kita mempertaruhkan kesehatan kita hanya demi mendapatkan harga murah tersebut.

Kesehatan adalah anugerah. Salam hangat! 🙂

Advertisements

14 thoughts on “Riuh-rendah Apotek Rakyat

  1. Benar Bung…., skarang banyak obat dijual bebas dan murah namun kualitasnya tidak memenuhi standar. Sebagai orang awam kita tdk tahu bagaimana standar obat yg baik, kita butuh BPOM untuk mengawasinya.

    Like

  2. Semoga kita tetep selalu sehat sehingga tidak perlu dipusingkan untuk beli2 obat…apalagi yg harganya mahal. Mari kita biasakan hidup sehat dengan makan teratur istirahat yang cukup dan olahraga bila perlu.. Salam kenal..dan terimalah salam manis dari beta yg masih bertahan di ambon manise.. 😀

    Like

  3. ow gitcu ya.. baru tau euy di pasar pramuka jadi apotek rakyat. berarti hampir sama kaya apotik2 cent*ry, guard*an, kim*a f*rma. tapi beneran gitu bisa lebih murah?
    berarti mereka ambil untungnya dikit atau apotik2 itu ambil untungnya banyak?

    Like

    1. astaga, itu beritanya udah heboh sejak berapa tahun lalu. ck ck ck. 😀
      saya sih gak tahu perbedaan harga dgn apotiknya signifikan atau nggak, cuma yang dipermasalahkan adalah masa kadaluarsa dan keaslian obatnya. seorang temen saya jelas2 menyebut pasar pramuka itu “black market” utk obat-obatan. *doh*

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s