Archive for the ‘ My Days ’ Category

Kecewa!

Sejak seminggu terakhir ini saya dikesalkan oleh blog indobrad.com yang naik-turun, kadang bisa diakses kadang tidak. Kalau tidak salah sudah tiga kali saya berbicara dengan teknisi penyedia hosting-nya dan dibantu dengan berbagai cara. Namun setiap kali pula blog saya sulit diakses setelah beberapa jam dan hal ini dikonfirmasi pula oleh beberapa teman.

Sebenarnya saya paham bahwa perusahaan tersebut sedang bermasalah pada salah satu server-nya di Amerika sehingga banyak situs internet yang terkena dampaknya dan saya merasa masih bisa bersabar. Namun pada akhirnya kesabaran saya habis di malam tadi: blog saya tiba-tiba kembali ke tampilan seminggu lalu di mana tampilan blog masih yang lama, dan, yang terparah: LIMA TULISAN TERAKHIR HILANG! Termasuk di dalamnya dua buah tulisan yang nangkring di draft. Jerih-payah menulis lenyap sudah. Bahkan saat ini pun halaman yang tampil hanya yang depan sedangkan tulisannya sendiri tidak bisa di-klik.

Kecewa, tentu. Ucapan maaf dari teknisi, meski santun dan tulus, tidak mampu menyejukkan hati yang sedang marah, apalagi memikirkan buah pemikiran yang lenyap begitu saja tanpa pemberitahuan dari yang dititipkan.

Otak saya buntu! Sekarang ini yang ada di pikiran pendek saya hanya meneruskan menulis di blog gratisan yang sudah dua tahun saya tinggalkan ini, mungkin untuk seterusnya. Saya sudah tidak peduli lagi dengan usaha mendatangkan uang dengan cara membangun blog berbayar agar pemasang iklan tergerak datang. Saya percaya bahwa tulisan yang baik akan berbicara dengan sendirinya dan, tetap berpikir cerah bahwa masih ada pihak-pihak yang bijak untuk mengajak bekerja sama meski saya menggunakan blog gratisan.

Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan semangat menulis dahulu yang terus-terang hampir punah akibat insiden semalam. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua. Ditunggu kunjungan berikutnya ke blog bersahaja ini ya. :-(

sumber: lookatmyhappyrainbow.com

sumber: lookatmyhappyrainbow.com

Upin & Ipin: Significant Others

Kali ini saya ingin mengangkat serial kartun Malaysia yang kian mewabah di Indonesia terutama di kalangan anak-anak usia sekolah. Upin & Ipin yang muncul pertama kali pada bulan puasa tahun 2009 lalu dengan cepat menarik perhatian, utamanya karena dialek Melayu yang cukup jarang disaksikan di televisi Indonesia, dan juga jalan ceritanya yang sangat sederhana serta pure fun. Nah, saya tidak akan memperkenalkan lagi film kartun yang (terus terang) membuat saya betah menonton ini karena overview-nya dapat dibaca di tautan Wikipedia Indonesia. Yang saya ingin angkat justru adalah karakternya. No, bukan karakter utama si nakal Upin dan kembarannya Ipin. Selain mereka berdua, masih ada beberapa kawan karib yang kalau dalam film seri biasa disebut significant others. Ada satu di antara mereka yang menjadi favorit saya.

Continue reading

Cita-cita Masa Kecil

Sewaktu kecil kita pasti memiliki cita-cita bukan? Sewaktu duduk di TK atau SD, bisa dibilang semua murid pernah ditanya “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?!” Umumnya jawaban yang keluar adalah beragam profesi ‘standar’ yang menjadi acuan saat itu. Polisi, tentara, pilot, dokter, insinyur, pramugari,… mungkin ada yang bisa menambahkan?!

Nah, kalau saya ingin menjadi apa ya sewaktu kecil dulu? Yang jelas saya tidak pernah mau menjadi dokter. Entah kenapa saya selalu berasumsi bahwa menjadi dokter itu adalah perjuangan yang sulit sehingga alam bawah sadar saya selalu memblokir pemikiran menjadi dokter itu. Gantinya, saya dihantui oleh impian lain.

Continue reading

Sushi Party. Sushi Parteeey!!

Sebuah undangan menarik mampir ke inbox saya minggu lalu untuk mencicipi menu-menu sushi baru di resto Sushi Groove di Citywalk Sudirman bersama dengan beberapa blogger lain dalam #SGFoodTastingPanel. Jadilah saya melangkah ke Sudirman malam itu dan disambut hangat oleh Rya dan bertemu pula dengan peserta food tasting panel lainnya. Okay, saya pada dasarnya gak suka basa-basi kalo di restoran, jadi mari kita menggila!! :D

Continue reading

Advice to Your Younger Self

Berapa umurmu sekarang?

Berapa pun, saya pikir pembaca blog ini paling tidak berusia 16 tahun *lirik yang di Banjarmasin*. :D Maksud saya menanyakan umur adalah pastinya kita sudah cukup mengerti siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana harus melangkah ke depan. Lalu bagaimanakah kita memandang ke belakang menyaksikan langkah yang sudah dilalui, benar atau pun salah?!

Saya ingin melangkah mundur sepuluh tahun, ke tahun 2001 ketika masih berumur 25 tahun. Pada waktu itu saya sedang bekerja di sebuah trading company yang bergerak di bidang tekstil. Sebagai karyawan baru tentunya ada banyak pergumulan yang dirasakan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sebagai orang yang sudah maju sepuluh tahun hingga tahun 2011 dan menyaksikan segala sesuatu yang terjadi sepanjang dekade terakhir, tentunya banyak pesan yang ingin disampaikan kepada diri sendiri di masa itu. Nah, saya akan mengulas beberapa yang baik untuk dibagi.

Continue reading

Selamat Paskah

Of all sermons and teachings about Jesus and His resurrection, this verse is one of the most concise yet deepest statements that I like to sing.

God sent His Son – they called him Jesus

He came to love, heal and forgive

He lived and died to buy my pardon

An empty grave is there to prove my Savior lives!

Selamat Paskah.

Wow, Sahabatku Menerbitkan Buku

Di tengah minggu yang ‘kering ide’ akan tulisan ini tiba-tiba terdengar kabar baik dari dua orang sahabat. Tak disangka kedua orang ini sukses mewujudkan guratan pemikirannya dalam sebuah buku dan menerbitkannya untuk dinikmati khalayak umum. Lalu yang menambah kesan tersendiri adalah mereka berangkat dari posisi yang sama dengan saya: blogger.

Yuk, kita intip karya mereka!

Continue reading

Kehabisan Ide

Akhirnya saya kembali ke blog lagi setelah ditinggal 5 hari. Ya, memang saya berkunjung dan membalas komentar namun tidak ada yang dituliskan. Ini termasuk hiatus paling lama sejak saya mengaktifkan blog ini Januari kemarin. Alasannya klasik: kehabisan ide.

Hehehe, sesuatu yang menurut saya aneh karena pada tulisan sebelum ini saya menggebu-gebu memaparkan semangat menulis buku dan berusaha mencari tahu langkah-langkah penerbitannya. Lah, sekarang malah hiatus. Tapi begitulah, kadang Dailypost yang menjadi salah satu sumber ide pun tidak dapat memberi solusi. Hmm, berikut saya ingin menganalisis 1-2 poin ‘kesalahan’ yang dilakukan:

Continue reading

Next Project: Menulis Buku?

Setelah kemarin ‘menikmati’ sharing dari teman-teman tentang buku yang inspiratif, secuil kutipan mengemuka dari salah satu komentar: “Menulislah, karena dia akan abadi” (Pramoedya Ananta Toer). Baris kutipan ini seolah membuka dimensi lain dari buku yang belum pernah saya sentuh dan bahkan pikirkan sekalipun: MENULIS. Selama ini tulisan saya tercecer di beberapa blog meski sempat saya berusaha untuk menyatukannya (sila cek blog lama saya di Ambon Kaart), atau sekadar curhat yang banyak dituliskan di buku harian sejak SD yang sekarang sudah hilang semua. Dan sekarang saya paling aktif menulis di sini, di rumah maya yang telah saya pelihara beberapa lama.

Namun tidak untuk menulis buku. Itu adalah dunia lain yang belum pernah dijamah dan mempunyai pakemnya sendiri. Saya percaya bahwa menulis buku adalah proses yang sangat kompleks karena kita harus bekerja sama dengan orang lain agar tulisan kita dapat dibaca orang. Mulai dari mencari penerbit, percetakan, pemasaran, sampai berurusan dengan penggemar kalau buku kita sukses; menulis secara online di blog tampak hanya seujung kukunya.

Nah, saya coba menimbang-nimbang dululah apakah saya mampu menulis buku. Berikut beberapa poin pertimbangan yang saya pikirkan sendiri secara awam dan belum membaca referensi mana pun. Dengan demikian saya membuka diri untuk segala saran dan masukan.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,190 other followers