Riuh-Rendah Komodo

Beberapa hari terakhir publik dikejutkan dengan pemberitaan di media yang menyebutkan bahwa Pulau Komodo terancam dikeluarkan dari daftar 28 finalis New 7 Wonders oleh karena perselisihan antara New 7 Wonders dengan pemerintah RI yang tidak mencapai titik temu soal penyelenggaraan deklarasi New 7 Wonders di Indonesia yang sedianya berlangsung November mendatang. Perang opini berupa pernyataan resmi dan tidak resmi dilancarkan oleh kedua pihak dan publik  lalu terpapar oleh 2 klaim yang berbeda. Saya akan mengulas sedikit saja sebagai pengantar:

1. Klaim New 7 Wonders

Bahwa telah ada pendekatan sejak awal dengan Pemerintah RI untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah deklarasi New 7 Wonders dan bahkan telah menandatangani kontrak dan kesepakatan legal dengan sebuah konsorsium swasta di Indonesia untuk maksud penyelenggaraan tersebut.

Bahwa pemerintah RI telah melakukan wanprestasi atas kesepakatan dimaksud jika kemudian membatalkannya.

2. Klaim Pemerintah RI

Bahwa pemerintah RI tidak pernah mengetahui adanya kesepakatan antara N7W dengan konsorsium tersebut. Yang pemerintah (dalam hal ini Kembudpar) lakukan baru sebatas pembicaraan mengenai penyelenggaraan dan sama sekali belum terikat kontrak.

Bahwa pemerintah RI keberatan dengan kewajiban membayar license fee sebesar 10 juta dollar dan biaya penyelenggaran sebesar 35 juta dollar. Total biaya 450 milyar rupiah tersebut tidak sepadan dengan kenyataan bahwa Komodo belum tentu masuk dalam New 7 Wonders dan potensi keuntungan yang diraih. Belum lagi biaya-biaya tersebut dirasa mengada-ada.

Bahwa kegiatan voting New 7 Wonders dan penyelenggaraan deklarasi adalah 2 hal berbeda, sehingga pengunduran diri Indonesia sebagai tuan rumah tidak seharusnya mengakibatkan posisi Komodo ikut dicoret dari daftar finalis tersebut.

Pandangan saya?

Pertama, kredibilitas New 7 Wonders sebagai penyelenggara perlu dipertanyakan. N7W adalah sebuah yayasan swasta yang melakukan pemilihan atas situs-situs alam dan buatan manusia dan memberi julukan ‘Tujuh Keajaiban Dunia’ pada situs-situs tersebut. Yayasan ini tidak di bawah PBB dan tidak berafiliasi apa pun dengan UNESCO seperti terbaca dalam statement ini. Mekanisme pemilihan adalah lewat voting dan bukan atas riset mendalam sehingga rawan manipulasi. Pendek kata, proses pemilihan ini tak ubahnya kontes popularitas dan kredibilitas hasilnya tidak lebih penting daripada Daftar Tempat Nongkrong Favorit deBlogger. Eh, terlalu ngawur ya perbandingannya? Ah biarin deh. :D

Kedua, total biaya 45 juta dollar itu jelas sesuatu yang absurd. Jangankan 45 juta, 10 juta dollar untuk license fee saja sudah tidak masuk akal oleh karena, sekali lagi, kredibilitas yayasan tersebut dalam memilih New 7 Wonders dipertanyakan.

Ketiga, bahwa pencopotan Komodo dari finalis New 7 Wonders tidak berarti ‘it’s the end of the world’. Penambahan tagline ‘satu dari tujuh keajaiban dunia baru’ hanyalah berupa tagline saja; arus kunjungan turis sangat bergantung pada program menarik yang ditawarkan.

***

Dengan demikian saya berpendapat bahwa kampanye New 7 Wonders ini tidak sepatutnya kita lanjutkan. Alasan saya sederhana: percuma mengeluarkan uang sebegitu banyak hanya untuk sebuah acara seremonial. Lagipula tidak selayaknya kita membanding-bandingkan alam ciptaan Tuhan dan kemudian mengerucutkannya menjadi 7 terbaik saja; itu adalah sikap yang tidak sepatutnya. Lagipula promosi wisata Komodo (dan Indonesia pada umumnya) dapat dilaksanakan dengan cara beragam dan kreatif dengan dana 45 juta dollar itu.

Aftermath

Kelak setelah riuh-rendah Komodo ini reda, apa PR yang tersisa? Tentunya perhatian kita akan melekat pada pemerintah RI: langkah apa selanjutnya yang akan diambil dalam kampanye pariwisata Indonesia? Pertemuan yang digagas kemarin oleh Kembudpar dengan beberapa perwakilan komunitas blogger merupakan langkah awal yang baik. Blogger memiliki kekuatan pembentuk opini masyarakat yang tak dapat dipandang remeh. Dan yang perlu terus ditingkatkan tentunya kemudahan akses dan kenyamanan dan keamanan fasilitas di situs wisata tersebut.

By the way, kita harus menyadari ekses lain dari promosi wisata yang belum menyentuh segala dimensi. Siang ini saya menyaksikan berita tentang demonstrasi masyarakat Labuan Bajo yang merasa bahwa aktivitas pariwisata Komodo tidak meningkatkan kesejahteraan mereka. Pemberdayaan masyarakat lokal memang sering kali dilupakan pemerintah ketika membangun suatu daerah dan lebih memilih sumber daya non-lokal dengan berbagai alasan. Semoga masyarakat sekitar Komodo tidak menjadi korban selanjutnya.

Sekarang, kapan dong kita ke Komodo? Sepertinya perlu menyusun rencana dari sekarang. :D

Beberapa tulisan yang membahas lebih jauh:

UPDATE:

===

Sumber gambar: antarafoto.com

35 thoughts on “Riuh-Rendah Komodo”

  1. dulu setahu saya yang ngurus ginian itu PBB, eh ternyata hanya yayasan biasa
    dan memang benar2 terlihat ini hanya sebagai bisnis saja
    ngapain diteruskan, yang terpenting adalah tetep jaga pulau komodo biar komodonya gak punah..

    saye belum pernah ke pulau komodo om..
    *berharap diajak Om Brad yg lg nunggu ajakan dari Kembudpar :D

  2. sebenarnya kampanye Pulau Komodo dari pemerintah juga sangat kurang, poster besar Komodo di gedung menbudpar juga baru beberapa bulan yang lalu..
    dan banyak juga pengguna internet di Indonesia yang enggak peduli dengan pemilihan ini..
    pemerintah kita memang lemah banget dalam promosi wisata, lebih baik diserahkan ke pihak swasta..

    1. soal poster mungkin telat ya, tapi secara umum awareness masyarakat sangat baik kok sebenarnya. dengan dana yang (asumsi saya) terbatas, hasil kampanyenya sangat baik. buktinya posisi kita di n7w sangat baik. hehe. tapi itu menurut saya ya :)

  3. Saya hanya mengkhawatirkan masalah 7 wonders hanyalah ujung-ujungnya jadi jamahan mafia pariwisata, makanya saya dari dulu tidak tertarik mengikuti voting seperti ini. Apa hak kita menentukan Pulau Komodo lebih “wonderful” dibandingkan Taman Laut Bunaken? Itu kan omong kosong pelaku pariwisata saja.

    Apa dampaknya nanti pada yang tidak masuk 7 wonders, lalu apa keuntungan dari pemegang gelar 7 wonders, ujung-ujungnya toh politik pariwisata.

    Indonesia memiliki banyak kekayaan wisata yang bisa diacungkan ke ranah pariwisata internasional. Hanya saja tidak banyak yang mengetahuinya. Kita perlu promosi untuk pemerataan industri pariwisata, bukan gelar semata, apalagi ujung-ujungnya menghabiskan dana negara.

    Kalau narablog sendiri saya rasa bisa menyumbang promosi wilayah pariwisata yang mereka kunjungi via blognya, bila perlu ditulis dalam pelbagai bahasa mancanegara. Ini akan jadi pendorong sendiri bagi promosi wisata di dalam negeri. Apalagi kalau tulisannya bisa bagus dan memikat wisatawan.

    Kalau perlu dana milayaran itu juga bisa buat promosi, misalnya saja ambil 10 juta rupiah untuk lomba menulis kreatif tentang tempat pariwisata lokal seorang narablog, buat dalam tagline tertentu. Pastinya jumlah tulisan tentang industri pariwisata di Indonesia akan meningkat di Internet, dan ini salah satu publikasi via dunia maya yang sangat kuat pengaruhnya.

    Atau Kembudpar minta pada narablog senusantara untuk menulis tentang industri pariwisata di Indonesia, misalnya ya narablog asal nusa tenggara akan menulis tentang pulau Komodo, pada bulan tertentu. Setidaknya tidak mungkin narablog yang memiliki rasa nasionalisme menolak permintaan seperti itu :D. Apalagi menulis sudah jadi hobinya dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    1. saya suka dengan paragraf:

      “Kalau narablog sendiri saya rasa bisa menyumbang promosi wilayah pariwisata yang mereka kunjungi via blognya, bila perlu ditulis dalam pelbagai bahasa mancanegara. Ini akan jadi pendorong sendiri bagi promosi wisata di dalam negeri. Apalagi kalau tulisannya bisa bagus dan memikat wisatawan.”

      hal ini sebenarnya sudah tercetus sewaktu ngobrol-ngobrol dengan Kembudpar semalam. bisa dimulai dari komunitas blogger kita juga. Mas Cahya, misalnya, menulis tentang Bali. :D

  4. LSM nyari duit.. :p, seenak udelnya aja meras pemerintah INA, ga masup list keajaiban dunia juga udah cukup beken kok :p

    Salam kenal ^^

  5. Kasian yach, cuma karena tidak bisa memenuhi permintaan dari penyelenggara terancam di coret, kayak ank kecil aja ngambek :)

  6. Lagi2 selain kita mencoba untuk promo ini sebatas kemampuan kita, selebihnya kita serahkan kepada pemerintah kita untuk melakukan yang terbaik bagi kekayaan tak ternilai yang kita miliki ini :)

    *menunggu undangan dan tiket gratis ke pulau komodo*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s