Pemecah Rekor?

image

Junaedi, pemandu perjalanan saya di Dukuh Duplak yang sedang cuti kuliah demi mengurus kebun kopi dan anak-istrinya itu terus-menerus nyengir seharian menyaksikan saya jatuh-bangun merayapi punggung bukit.

“Njenengan pemecah rekor lo, Mas,” ucapnya berulang-ulang sambil memberikan dorongan semangat.

Iya sih, pemecah rekor pendaki dengan angka berat badan tertinggi dan durasi perjalanan terlama mungkin, ya?

Tapi sebenarnya untuk apa sih saya ke mari? Nantikan di tulisan selanjutnya. :)

Kartu Kredit Titanium: Living the Good Life

Aduh, baru tanggal 15. Minumnya teh aja deh.

Celetukan polos kawan SMA saya ini membuat kami semua tertawa pahit. Saat sedang tekun memeriksa menu di sebuah restoran mahal sewaktu reunian kemarin, sang kawan dengan santainya memesan salah satu menu termurah karena, yah, gajian masih 10 hari lagi! Jadi buat apa juga elo jaim di depan teman-teman SMA kalau sehabis itu kantong lo bolong? :D :D :D

Pasti banyak deh yang setuju bahwa hidup kita diatur oleh tanggal gajian. Awal bulan, biasanya sekitar tanggal 1-5, adalah saatnya berbelanja kebutuhan bulanan di supermarket dan membayar berbagai tagihan rumah tangga. Di sekitar tanggal 15 mulailah kita mengencangkan ikat pinggang dan memantau pengeluaran (meski kadang jebol juga) sambil berdoa agar tanggal 25 segera datang. Lalu akhirnya ketika tanggal 25 benar-benar tiba, JREEENG, waktunya gila-gilaan. Segala gadget tiba-tiba dirasa ‘perlu’ untuk dibeli, situs penerbangan ditelusuri, sampai kalap berkeliling di pusat perbelanjaan mumpung ada duit. :P

Eh tapi berasa juga gak kalau mood kita juga sedikit dipengaruhi oleh tanggal-tanggal tersebut? Awal bulan adalah saatnya kita fokus pada kebutuhan penting. Di tengah bulan, mood jatuh ke jurang karena isi kantong tipis, dan akhir bulan semua isi toko tampak berkilauan dan kita memasukinya dengan perasaan berbahagia? (Oke, lebay sedikit. Tapi bohong kalau kamu gak setuju!) :P Lalu kalau sampai ritme kita juga diatur tanggal begini, patutkah kita disebut sedang having a good life alias menikmati hidup?

Baru-baru ini ketika saya saya sedang ‘browsing-browsing gak jelas’ (karena sakit hati kalau membuka situs belanja online di pertengahan bulan) saya mendapatkan kejutan yang menyenangkan. Standard Chartered Bank yang baru-baru ini meluncurkan Kartu Kredit Titanium yang memanjakan nasabahnya dengan cashback hingga 3,5% per bulan itu mengumumkan promo lagi yakni The Good Life yang berlangsung setiap bulannya pada 3 tanggal istimewa, yaitu tanggal 5, 15, dan 25. Pada ketiga tanggal ini, para pemegang Kartu Kredit Standard Chartered Titanium dapat menikmati promo Good Shopping, Good Dining, dan Good Lifestyle yang menarik sesuai kebutuhan tiap bulannya. Liat nih ya:

Pas banget kan dengan kebutuhan kamu di seputar tanggal-tanggal itu? Jadi tinggal masukkan ketiga tanggal itu ke agenda kamu dan manfaatkan promonya yang hanya berlangsung pada tanggal tersebut. Lalu bagaimana dengan cashback-nya? Tenang, fasilitas cashback tetap berlaku untuk transaksi apapun yang berupa ritel, tagihan rutin dan cicilan. Bahkan fasilitas ini tidak hanya dapat kamu nikmati di ketiga tanggal di atas saja, melainkan setiap hari.

Lalu apakah kamu sudah tahu kalau Kartu Kredit Titanium dari Standard Chartered Bank ini gratis iuran tahunan di tahun pertama? Trus bunga transaksi ritelnya cuma 2,95%? Lalu iuran tahunannya sekarang turun menjadi hanya Rp 250.000,-? Belum ya? Hehehe. Gimana, tertarik memiliki Kartu Kredit Standard Chartered Titanium dengan keuntungan segudang dan kesempatan menikmati beragam promo menarik ini? Kamu bahkan tidak harus beranjak dari depan laptop. Cukup ajukan aplikasi secara online dan malahan kita bisa mendapat keuntungan tambahan berupa cashback 20%, gratis iuran tahunan dan kesempatan mendapatkan SPECTRA My Album X1 kalau aplikasi kartu kita disetujui dan kita melakukan pembelanjaan sebanyak 5 kali dalam 2 bulan pertama setelah kartu disetujui. Tunggu apa lagi? Ajukan aplikasinya di sini.

Reunian yuk tanggal 15 Mei. Gak takut tanggal tua lagi dong? Kan ada promo diskon 50% dari Kartu Kredit Standard Chartered Titanium! :D

Selamatkan Situs Terjan

Matahari baru saja menyembul dari balik pegunungan Lasem ketika saya beranjak menyusuri pesisir Kabupaten Rembang dan mengarah ke timur, kira-kira setengah jam perjalanan dari kota Lasem. Setibanya di kecamatan Kragan, mobil yang dikemudikan mas Aghi berbelok ke kanan memasuki jalan desa yang berdebu dan tidak rata, menyusuri persawahan dan hutan-hutan gersang yang ditengarai masih menyimpan bukti peradaban manusia zaman Megalitik di perut buminya.

Laut tenang berlatar Gunung Muria yang mengesankannya terpisah dari daratan

Ketika bukit-bukit pegunungan Lasem di sebelah timurnya mulai terlihat, sebuah batu kokoh berdiri mencuat yang rasa-rasanya tidak mungkin diciptakan oleh alam; banyak yang menduga batu itu didirikan oleh manusia. Oleh karena posisinya maka batu itu disebut Selodiri dan menjadi penanda bagi nelayan. Apabila para nelayan melaut, mereka akan memperhatikan batu itu dari kejauhan sampai hilang dari pandangan. Itulah saat yang tepat untuk menebar jala ke air.

Setelah Selodiri dilalui, mulailah tampak pemandangan bukit-bukit yang telah ‘digaruk’ oleh aktivitas penambangan kapur yang bernazar meratakan bukit yang sejatinya menyimpan peninggalan sejarah. Sadar bahwa Terjan dalam bahaya pemusnahan, sekelompok masyarakat bersuara lantang pada pemerintah guna mencegah malapetaka itu terjadi. Sepertinya berhasil; perusahaan tambang telah berniat menghentikan segala aktivitasnya. Tapi benarkah demikian?

Jalan masuk ke situs Terjan yang harus melalui kawasan pertambangan

Masih ada alat berat dan para pekerjanya di sana

Ah, main kucing-kucingan ternyata sudah biasa.

Mengutip hasil penelitian arkeologi pada tahun 1981, situs megalitik Terjan ini disebut juga ‘makam Mbah Dresmo’ yang terletak 105 meter di atas permukaan laut. Bangunan megalitik yang terletak di atas bukit Selodiri ini umumnya dihubungkan dengan alam kubur, yakni untuk melindungi perjalanan arwah. Terbukti dengan temuan kerangka manusia di tengah situs yang posisi kepalanya menghadap ke puncak bukit dan dikelilingi oleh arca-arca manusia-campur-hewan dengan rupa seram guna menolak bala. Di sekelilingnya terdapat pula beberapa kursi batu yang dipercaya sebagai tempat para arwah.

Selanjutnya saya biarkan beberapa gambar berbicara:

Penampakan situs Terjan yang dinaungi pohon besar

Salah satu arca yang masih utuh berbentuk kepala manusia, namun menyerupai hewan jika dilihat dari samping

Hari Pusaka Dunia

Tanggal 18 April diperingati sebagai World Heritage Day dan salah satu peringatannya diadakan di situs Terjan yang pagi itu ramai oleh kehadiran anak-anak SD Terjan dan SD-SMP Nawawiyah Rembang. Acara yang melibatkan anak-anak ini dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran warga setempat akan warisan bersejarah yang tersimpan di bukit-bukit di belakang rumah mereka, sekaligus menggalang dukungan bagi penyelamatan situs ini dari bahaya penambangan. Kemeriahan acara ditandai dengan beberapa atraksi menarik seperti drama tentang budaya lokal dan pantomim. Tak lupa Mas Bodhi Pop memaparkan keberadaan situs Terjan dan betapa pentingnya warisan ini untuk dijaga. Selamatkan situs Terjan!

Selamat Hari Pusaka Dunia!

Eh, tapi pagi itu ada kejutan menyenangkan. Wijaya, kawan blogger dari Rembang yang ternyata tinggalnya cuma sepelemparan batu dari Terjan menyempatkan diri untuk hadir. Jadilah kami kopdar dadakan yang berlanjut hingga siang harinya di Lasem. Huahahahahaha!

ki-ka: indobrad, whizisme

Masih banyak foto-foto lainnya tentang situs Terjan secara lebih detail. Silakan saksikan di slideshow di bawah ini:

 

Pikir-pikir Kartu Kredit Baru

Siapa yang nafsu berbelanjanya lebih besar? Laki-laki atau perempuan?

Para pria tentu akan bertepuk tangan sambil berseru, “Istriku yang hobi belanja!” Sementara para wanita menggerutu namun diam-diam mengamininya. :D Namun saya pernah membaca artikel hasil sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa kebiasaan perempuan adalah berbelanja dalam nominal sedang-sedang saja namun frekuensinya sering. Sementara para lelaki memang cenderung bisa menahan hasrat mengeluarkan uang, namun sekali dia kepincut akan suatu barang, dia tak akan segan-segan berbelanja senilai maha besar. Jadi kalau semua pembelanjaan itu ditotal dan dibandingkan, maka para prialah juara berbelanja yang sebenarnya. :D :D :D

Fakta itu saya amini benar. Saya termasuk orang yang jarang berbelanja untuk keperluan sekunder dan hampir tidak pernah tergiur promo diskon baju atau tiket pesawat ke luar negeri. Saya berbelanja berdasarkan keperluan, dan okelah, keinginan. Jadi ketika saya tiba-tiba merasa perlu membeli tiket pesawat, saya tidak akan ambil pusing dan langsung memesannya untuk keberangkatan minggu depan, tak peduli bahwa dengan cara itu harga tiketnya masuk dalam plafon kelas ekonomi reguler alias MEHEL. Atau misalnya sedang berkeliling di pusat perbelanjaan dan saya tertarik akan sepotong celana panjang, langsung saya akan membeli tanpa melihat lagi bahwa sebenarnya di outlet sebelah ada diskon 70%.

Makanya sekarang saya sedang berpikir-pikir untuk mengubah kebiasaan serampangan itu. Saya ingin memulai dari melakukan riset akan harga-harga di pasar, membandingkan harga di toko-toko, sampai mencatat jadwal promo sehingga saya bisa mendapat harga terbaik dari suatu produk dan jasa. Namun itu saja belum cukup. Cara lain untuk berbelanja cerdas adalah saya butuh kartu kredit yang baik hati, yakni bukan saja mengizinkan saya berbelanja dengan kredit namun juga bisa memberi diskon berupa cashback. Nah! Kartu kredit apa yang kira-kira cocok ya?

Selidik punya selidik, ternyata ada kartu kredit baru yang menawarkan cashback hingga sebesar 3.5% atau maksimal Rp 650,000.- setiap bulannya. Jadi semakin besar pembelanjaan, semakin besar pula persentase cashback-nya. Fasilitas ini berlaku untuk semua transaksi retail, lho, termasuk pembayaran rekening bulanan rutin dan cicilan barang. Yang tidak dihitung cuma denda, bunga, pembayaran iuran tahunan, dan tarik tunai. Tampilan kartunya juga keren banget, hitam elegan gitu. Intip yuk:

scbtitanium-header

Yang di atas itu namanya kartu kredit Titanium, produk kartu kredit terbaru keluaran Standard Chartered Bank ini memberikan manfaat baru di dalam kartunya. Sudah kenal dong sama bank ini. Di Indonesia sendiri Standard Chartered bukanlah perusahaan baru. Bank ini bahkan menjadi salah satu bank tertua di Indonesia yang telah beroperasi selama 151 tahun sejak 1863. Tidak perlu ragu lagi membawa kartu kredit milik SCB ke luar negeri; seluruh merchant akan senang hati menerima kita.

Kembali ke kartu kredit Standard Chartered Titanium, apa lagi keuntungan yang bisa saya dapat dengan memiliki kartu ini? Pertama, bunga transaksi ritel sangat rasional yakni di angka 2.95%. Kemudian ternyata iuran tahunannya turun, saudara-saudara. Dari yang sebelumnya Rp 500,000.- per tahun, kini pemiliknya hanya perlu membayar sebesar Rp 250,000.- per tahun. Masih kurang? Iuran tahunan di tahun pertama malah digratisin! :D Selain itu para pemegang kartu ini juga dapat menikmati fasilitas-fasilitas unggulan lainnya seperti biasa dari Standard Chartered Bank, yakni kemudahan pembayahan tagihan rutin bulanan melalui EZ Bill, cicilan tetap tanpa bunga, dan banyak lagi.

Semua informasi di atas saya baca di situs resmi kartu kredit Standard Chartered Titanium lho. Oke, saya tertarik.

Belanja Gratis

Rencananya saya mau apply Kartu Kredit Standard Chartered Titanium ini di Super Indo terdekat saja. Kenapa? Karena hanya mengajukan permohonan kartu kredit kita bisa langsung ikutan lomba belanja gratis dari Standard Chartered Bank bekerja sama dengan Super Indo. Syaratnya mudah: cukup mengajukan permohonan kartu kredit ditambah lampiran dokumen-dokumen persyaratan lain serta kartu kredit bank lain. Ketentuan lainnya adalah menunjukkan bukti pembelanjaan di Super Indo senilai Rp 500,000.-. Sudah itu saja, kita langsung bisa seru-seru stress di Super Indo demi hadiah menarik berupa voucher Super Indo senilai hingga Rp 1,000,000.- dan belanjaan yang diambil di lomba yang langsung boleh dibawa pulang juga.

Kenapa saya bilang seru-seru stress? Karena saya bukan tipe pria yang senang berburu barang di supermarket. Saya takut jadi blank kalau ikutan lomba dan malah kalah. :D Tapi gapapa, saya mau coba ah. Jadwalnya sebagai berikut ya:

  • Sabtu, 15 Maret 2014 Pukul 14:00 WIB di Super Indo Bintaro
  • Sabtu, 22 Maret 2014 Pukul 14:00 WIB di Super Indo Mampang
  • Sabtu, 29 Maret 2014 Pukul 14:00 WIB di Super Indo Sport Mall Kelapa Gading

Mau join? Bareng yuk! :D

===

Sumber gambar: situs resmi Mastercard Titanium – Standard Chartered Bank Indonesia

Berdamai di Telaga Warna

Dieng seolah sudah menjadi mantra yang menghantui mimpi saya di bulan-bulan terakhir tahun lalu, khususnya ketika sedang tinggal di Jepara. Namun baru pada bulan Desember saya akhirnya berkesempatan mengunjunginya setelah menghadiri perhelatan Blogger Nusantara 2013 di Yogyakarta. Dengan bermodalkan selembar jaket tebal saya lalu kasak-kusuk mencari rute terefisien (baca: termurah).

Dari Terminal Jombor di Yogyakarta saya harus naik bis ke terminal Magelang dulu baru kemudian lanjut ke Wonosobo. Tiba di Terminal Wonosobo, saya memilih lanjut naik angkot ke arah Alun-Alun Wonosobo dan turun di satu perempatan sebelah utara alun-alun, tepatnya sesudah SD Pius. Di situlah biasanya bis-bis jurusan Dieng-Batur menunggu penumpang. Kalau dihitung-hitung, total saya menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam dari Jogja untuk sampai ke Dieng dalam ritme yang sangat santai diselingi makan dan plangak-plongok kedinginan di seputar alun-alun. Ya, siang hari di kota Wonosobo dinginnya melebihi Bandung di malam hari,

Ada beberapa tempat wisata menarik untuk dikunjungi di seputar Dataran Tinggi Dieng dan rasanya sayang kalau saya rangkum dalam 1 tulisan saja. Jadi saya akan membaginya dalam beberapa tulisan dan gambar ya.

Telaga Warna

Lokasi Dieng sangat unik secara administrasi. Jika kita sampai di perempatan Dieng, itu adalah desa terakhir di Kabupaten Wonosobo. Jalan ke kanan sekitar 100 meter saja kita sudah menemukan gerbang selamat datang ke Kabupaten Banjarnegara. Jadi lokasi-lokasi wisata di sini terbagi dua: ada yang di Wonosobo, ada pula yang di Banjarnegara. Telaga Warna sendiri terletak di wilayah Wonosobo dan dapat ditempuh sekitar 5-10 menit saja dengan kendaraan bermotor. Tetapi pemilik penginapan Bu Djono, yang juga menjual jasa pengantaran, malah menyarankan saya jalan kaki saja karena cukup dekat. Usul itu sangat saya apresiasi dan melangkahlah saya ke arah selatan melalui jalan raya yang mulus. Tiba di gerbang utama kawasan wisata Dieng dan membayar tiket Rp 18,000.- lalu belok kanan di pertigaan pertama, akhirnya sampailah saya di kawasan Telaga Warna. Tiket masuknya Rp 2,000.- saja.

Aduh, bagaimana saya mesti menggambarkan suasana Telaga Warna, ya?

Saya cuma bisa termenung memandangi kumpulan air tenang berwarna biru kehijauan di sore gerimis itu. Setitik riak pun tidak ada, hanya ketenangan yang membius meski sesekali ditingkahi keceriaan para turis yang dengan centilnya foto-foto dengan berbagai gaya di tepi danau. Awas, jangan sampai tercebur ke air karena entah kandungan apa di dalamnya yang bisa berbahaya bagi makhluk hidup.

Seorang penjaga mengingatkan saya untuk segera bergerak karena jalan setapak menuju Telaga Pengilon akan melalui sisi danau yang rimbun dan cepat menjadi gelap di petang hari. Maka saya menyusuri pinggiran telaga pertama dan semakin masuk ke hutan. Benar memang, hutan itu sunyi dan remang-remang. Segera saya jauhkan pikiran aneh-aneh dari kepala sambil komat-kamit. Ketika akhirnya pohon-pohon seolah menyingkir dan menyibakkan area terbuka, saya pun bernafas lega. Susur sedikit lagi, sampailah saya di telaga sebelahnya, Telaga Pengilon.

Meski terletak persis di sebelahnya, Telaga Pengilon ini tidak berwarna-warni. Sejatinya danau ini jernih seperti kaca, namun saat itu airnya terlihat kecoklatan akibat sedimentasi. Danau inilah yang menyuplai air ke danau di sebelahnya. Suasana di sini jauh lebih sepi; cuma ada sepasang kekasih yang gelendotan di atas sebatang kayu dan agak kagok ketika saya datang. Saya hanya tersenyum sambil berkata jangan kuatir, saya tidak akan mengganggu, teruskan saja. Kami pun kembali terdiam di tempat masing-masing hingga akhirnya saya jatuh tertidur sekitar 15 menit. :)

Aneh memang, namun saya bersyukur bisa berkunjung ke mari sendirian dan bukannya bersama segerombolan krucil yang ribet. :P Suasana kedua telaga memang mudah menghanyutkan pikiran orang-orang yang hendak menyepi untuk merenung dan berdoa. Bahkan di hutan kecil di antara kedua telaga terdapat kompleks Gua Semar yang konon kerap dijadikan tempat bersemedi sejak zaman Majapahit dahulu guna meminta wangsit. Saya sempat masuk ke area hutan itu sebelum mengurungkan niat meneruskan berjalan. Aura mistis kuat terasa.

Tuhan seolah mengerti bahwa saya sedang membutuhkan ruang untuk bernafas. Maka saya menarik nafas dalam-dalam di setiap titik pemandangan dan pikiran terasa melayang-layang dalam senyap. Bukan hanya saya; bahkan ketiga sahabat kecil yang biasanya cengengesan di sekolah ini juga duduk berdiam hingga senja.

Geliat Petani

Kawasan Dieng terkenal dengan industri pertaniannya yang maju pesat. Memang bukit-bukitnya menjadi terlihat ‘gundul'; namun sebagai gantinya deretan bukit dan lembah ini membawa berkah hasil bumi yang luar biasa segar dan manisnya. Di sinilah saya berkenalan dengan buah Carica, atau disebut juga Pepaya Gunung. Buah ini termasuk dalam famili pepaya atau Bahasa Inggrisnya disebut Squash. Selain itu, kentang dan cabai (bukan cabe-cabean) juga menjadi komoditas utama. Demikian pula wortel, sawi, kol, dan beberapa jenis sayuran lain. Hmmmm…

Telaga Warna adalah tempat di mana saya dengan mudah berdamai dengan diri sendiri, alam, dan Pencipta. Kunjungan di sore itu seolah menjadi ‘inisiasi’ untuk menantang nyali di lokasi berikutnya: Kawah Sikidang!

(bersambung)

Lasem, Sekali Lagi

Kunjungan singkat saya ke Lasem beberapa bulan lalu (bisa dibaca di tulisan tentang Lawang Ombo dan Batik Rokok) masih menyisakan kenangan seru berupa blusukan ke kampung-kampung Peranakan yang sebagian masih tertata rapi. Namun apakah blusukan saja yang menjadi daya tarik kota yang resminya berupa kecamatan di Rembang ini?

Hal yang bagi saya lebih mengesankan adalah budaya masyarakat Tionghoa yang masih tetap bertahan di tengah gempuran zaman dan kini dituturkan oleh opa-opa dan oma-oma yang semakin lanjut usia. Atau nafas Islami yang begitu kenal dari warga Lasem yang hidup tepat di sisi masyarakat keturunan dan bahkan bersinggungan klenteng dan pesantrennya; masing-masing tekun menjaga prinsip hidup dan warisan budaya sambil menghargai pertalian saudara yang telah teruji oleh masa dan perjuangan melawan penjajah. Atau ini juga: gema Majapahit yang lambat-laun kembali terdengar gaungnya melalui kisah-kisah para arif cendekia lokal dan bukti-bukti arkeologi yang kadang tak sengaja ditemukan di halaman belakang saat mencangkul. Lasem adalah persilangan budaya Jawa Tengah yang selalu menarik untuk didatangi lagi dan lagi.

Namun masalah klasik yang langsung terbaca dari kacamata backpacker saya adalah ketiadaan akomodasi yang pas bagi kantong sebagian pejalan yang pas-pasan. Lalu yang lebih penting lagi: informasi akurat dan komprehensif tentang titik-titik wisata menarik yang praktis untuk diambil para petualang yang kerap datang sendirian atau berkelompok kecil. Sejauh pandangan saya, pariwisata di Lasem baru relatif siap menyambut kunjungan wisatawan dalam rombongan besar dan telah memastikan jadwal sebelumnya karena ini berkaitan pula dengan kesiapan tuan rumah beberapa tempat dalam menyambut tamu. Maklum, pariwisata di sini masih dijalankan secara sporadis oleh pemilik properti atau sekumpulan pegiat pelestari pustaka dan belum menjadi industri.

Oleh karena itulah saya mendapat kejutan menyenangkan melalui pesan singkat yang dikirim oleh Mas Bodhi Pop. Pemuda berambut gondrong sampai ke punggung ini adalah pendiri Rembang Heritage Society selain juga menjadi salah satu pegiat Jejak Pusaka Lasem (Lasem Heritage Trail) dan pagi ini beliau mengirimkan informasi yang langsung membuat saya girang. :D Brosur ini adalah informasi singkat tentang Lasem yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Sila disimak ya:

klik untuk melihat gambar / informasi asli

klik untuk melihat gambar / informasi asli

Ada 2 hal yang menjadi kejutan menyenangkan. Pertama adalah mulai ada usaha menampilkan beberapa atraksi utama yang membantu para turis independen sebagai orientasi umum tentang pusaka Lasem. Berbahasa Inggris pula! Kedua adalah Lasem mulai menyediakan PENGINAPAN MURAH UNTUK BACKPACKER! Hehe, saking senangnya sampai saya capslock semua. Kata Mas Bodhi, usaha ini benar-benar baru sampai-sampai ketika ditanya namanya, Mas Bodhi sendiri mengaku belum terpikirkan. Yang jelas harga penginapan sederhana berkamar-mandi di luar ini sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp 50.000,- saja.

Selain kamar murah, Mas Bodhi rupanya juga memikirkan para pejalan independen yang kadang datang tanpa janjian sebelumnya. Jadi demi melayani teman-teman backpacker dalam menghubungkan dengan tempat-tempat wisata yang belum siap menerima tamu dadakan tadi, penginapan ini juga menyediakan jasa pemandu wisata yang harganya terjangkau. Saran saya sih lebih baik gunakan saja jasa mereka karena memang itu satu-satunya cara bisa masuk ke beberapa rumah dan klenteng dengan bebas tapi sopan.

Selain murah, saya curiga para pemandu tersebut bukanlah orang sembarangan. Pasti pelakunya adalah para anggota BHRE LASEM alias Paguyuban Pelestari Pusaka Lasem yang jago memaparkan informasi detail tentang daerah tersebut lengkap dengan legenda-legenda yang dijamin membelalakkan mata. Gimana gak kaget kalau tiba-tiba saya dikasih tau bahwa halaman depan sebuah hotel di pinggir jalan ramai itu dulunya adalah batas sebuah kerajaan? Atau bahwa di halaman belakang Rumah Tegel sesungguhnya berdiam… ah sudahlah! :P

Penginapan yang terletak di Jalan Karangturi V No. 2 itu bukanlah sembarang penginapan. Saya pernah melewatinya waktu tempat itu masih rumah biasa. Lokasinya adalah sebuah rumah tua yang berpintu kayu jati tinggi dengan halaman dalam yang tak langsung terlihat dari luar karena terhalang tembok tinggi khas rumah Peranakan. Namun bisa terlihat sedikit ujung pepohonan rimbun di halaman dalamnya. Untungnya Mas Bodhi kasih bocoran beberapa foto hasil jepretan sendiri:

IMG-20140114-WA0002

Sayang fotonya kabur, namun bolehlah memberi sedikit gambaran

Hore! Sekarang Lasem mulai ramah pada backpacker. Untuk informasi lebih lanjut bisa klik halaman Facebook Lasem Heritage Trail. Tapi kalau udah gak sabar ingin segera lompat ke bis menuju Lasem, kirim email saja ke Mas Bodhi Pop di rembangheritagesociety@gmail.com. Ada juga sih nomor HP-nya, tapi Mas Bodhi saat ini sepertinya sedang sibuk jadi saya belum dapat konfirmasi boleh/tidaknya mengumbar nomor itu di sini. Nanti deh ya.

UPDATE: Katanya boleh diumbar. :D Telepon / WhatsApp langsung aja ke 0897-821-7838 ya.

Catatan Akhir #PerangPostinganBlog

Awal tahun kok malah bikin catatan akhir?

Ya kebetulan aja sih saya bikin catatan akhir karena berkaitan dengan sebuah event yang baru saja berakhir. Event itu adalah #PerangPostinganBlog. Bagi yang pernah membaca tulisan pada pembukaan event ini di September lalu (yang tulisannya sekarang lenyap bersamaan dengan hosting company yang ngajak ribut), tentu paham bahwa ini adalah ide ‘gila’ yang keluar begitu saja dari kepala beberapa punggawa blogger Flobamora dari Nusa Tenggara Timur; bolehlah saya sebut di sini Tuteh dan Ilham. Ide itu lalu disambut oleh teman-teman komunitas Blogfam yang menjadikan event akhir tahun ini bersifat sangat ‘longgar’, yakni peraturan yang sederhana dan tidak mengikat, lalu tidak pula ada hadiah. Loh?!

ppb

Memang begitu. Seperti dikutip dari kicauan Tuteh, niat mulianya sederhana: menguji diri sebagai blogger berupa kesanggupan menulis/mengupdate blog; mengingatkan blogger untuk kembali ke fitrah – berbagi cerita; dan mempertanyakan konsistensi kita ngeblog jika tanpa hadiah. Periode ‘lomba’ dari September 2013 dan berakhir di 31 Desember 2013. Sambutannya? Ada 10 orang berpartisipasi menulis dengan laju yang mereka atur sendiri. Tanpa target, semua sesuai hati. Asyik kan?

Ketika akhirnya lomba ini berakhir dan Tuteh mengumumkan pemenangnya, ada perasaan lega dan sedih. Lega karena satu lagi milestone tercapai, namun sedih juga karena tidak ada lagi target yang dikejar. Kalau sudah begini, rasanya ingin memacu diri untuk meraih tantangan lain lagi dan menguji diri di level lebih berat lagi.

Tips Konsistensi di Blog

Ada beberapa yang bertanya pada saya melalui Twitter kemarin pasal ini. Jawaban ngawur saya adalah: sering-sering begadang. :P Masuk akal sih, karena sehari-hari waktu kita sudah tersita oleh kesibukan luar biasa sehingga yang cukup logis adalah mengurangi waktu tidur untuk dipakai menulis. Namun ada alasan lebih penting kalau saya: langsung menuliskan ide yang terlintas di kepala. Apa maksudnya?

Jadi gini, ketika saya misalnya sedang bepergian ke luar kota atau sedang duduk termenung di depan televisi, kadang sesuatu melintas di kepala dan saya lalu berpikir: ‘Ah, gue pengen ngeblog soal ini deh.’ Namun kalau ide itu kita endapkan begitu saja dengan harapan akan kita gali lagi kala bertemu laptop, percaya deh, ide itu tidak akan kita temukan lagi. Oleh karena itu saya mencoba disiplin dalam memasukkan 1 kalimat ide tulisan tadi ke aplikasi Memo di telepon genggam saya, seberapapun banyak dan anehnya ide tersebut. Jadi ketika sudah bersiap untuk menulis, saya tinggal membuka daftar topik di telepon tersebut dan mengeksekusi salah satu idenya. Jadi semacam To-Blog-List gitu deh. :D Bagi saya cara ini sangat membantu karena pikiran saya langsung fokus ke tulisan dan tidak habis waktu termenung-menung memikirkan ide menulis.

Saya ucapkan banyak terima kasih pada para penggagas ide gila ini. Heran deh, justru ketiadaan hadiah menjadi pemicu saya menulis dengan semangat nothing to lose dan hadiah kecil yang dijanjikan oleh ‘panitia’nya menjadi kejutan menyenangkan yang membuat pemenangnya girang duluan, tak peduli apapun hadiahnya dan berapa lama akan dikirim. Gosipnya sih awal Februari akan dikirim; mungkin menunggu Tuteh gajian dulu. :D

Terus siapa pemenangnya? Aduh, siapa ya? *amnesia sementara*

Catatan Akhir 2013

Tahun 2013 tinggal beberapa jam lagi sebelum kita semua melangkah ke tahun baru. Sudah lazim bagi sebagian orang untuk menuliskan resolusinya di awal tahun, entah kemudian mereka merefleksikannya kembali di akhir tahun atau tidak. :P Yang jelas saya mengenal seorang sahabat yang selalu menengok kembali resolusinya di awal tahun untuk ditimbang-timbang, apakah sudah tercapai atau belum. Yang saya salut adalah dia membuat resolusinya sangat realistis dan terdiri dari dua poin saja, sehingga dengan bangga dia katakan bahwa resolusinya sudah tercapai 100%. Selamat! :D

Selain bikin resolusi, banyak orang juga menengok kembali apa-apa saja yang telah dikerjakan tahun ini. Seorang kawan blogger sudah berkicau melalui akun twitternya tentang kaleidoskop perjalanan yang ia telah lakukan dari Januari sampai Desember. Saya mungkin tidak mencatat serajin dia sehingga tidak mampu merunut kembali. Namun kalau melihat lagi perjalanan saya menulis di blog sepanjang tahun ini, ada beberapa penanda penting yang boleh saya ceritakan sekaligus mungkin ada yang bisa mengambil pelajaran.

1. Lokasi, lokasi, lokasi

Lokasi di sini maksudnya online alias domain. Sebut saja krisis identitas atau labil ekonomi, namun kenyataannya saya adalah manusia yang sulit konsisten di dunia maya. Pernah di akhir tahun 2012 saya meluncurkan kopimana.com yang sekarang sudah hilang karena kehilangan semangat. Lalu pernah pula saya terilhami oleh satu istilah Bahasa Tamil yang berarti ‘Lelaki Gagah’ dan kemudian saya buru-buru parkir domainnya (yang ini tidak saya kasih tahu ya, malu soalnya). :D Atau tiba-tiba belingsatan mengejar domain gratisan di acara #BN2013 untuk kemudian didiamkan saja, dsb dst.

Bahkan langkah terakhir pun belum bisa saya katakan bijak meski saya menaruh harapan besar di dalamnya. Langkah tersebut adalah menetapkan identitas di blog yang sedang Anda baca ini. Dengan domain dan hosting yang saya kontrol 100%, saya berharap bisa menulis lebih maksimal dalam Bahasa Indonesia. Untuk blog berbahasa Inggris, semoga tahun 2014 saya bisa tetapkan personal branding-nya juga, meski kelihatannya akan saya pisahkan secara total dari yang ini.

2. Mengukur jalan

Kalau yang ini, maksudnya adalah traveling. Bolehlah saya berbangga karena sudah konsisten menulis tentang tempat-tempat yang bagi saya menarik dan cenderung mengembangkan blog tematik tentang catatan perjalanan. Meski mungkin belum semangat benar karena sebuah tulisan sering kali dipublikasikan sebulan setelah perjalanannya usai, namun paling tidak semangat untuk menulis dan berbagi itu juga yang memacu saya untuk lebih sering melihat alam sekitar. Bulan-bulan paling produktif adalah Oktober-November ketika saya sedang menetap di Jepara dan menulis banyak hal baru di sana. Semoga di tahun 2014 bisa lebih banyak kesempatan jalan-jalan. Amin. :D

3. Monetisasi

Meski belum serajin teman-teman petualang SEO, bolehlah sedikit-sedikit blog ini dijadikan lahan mendapatkan penghasilan tambahan melalui beberapa ulasan tempat wisata dan produk. Meski mungkin ada yang menuduh ‘tidak sopan karena tidak secara jelas mencantumkan keterangan bahwa itu iklan’, namun bagi saya yang terpenting adalah berbagi secara jujur dan bersemangat pada para pembaca dan tidak jor-joran menjual produk tersebut. Pada akhirnya terbukti sangat banyak yang tetap mengapresiasi, kok. :P Semoga tahun 2014 membuka jalan lebih luas lagi. Amin lagi, deh. :)

***

Itu saja dulu catatan blog yang baru efektif berjalan 6 bulan ini. Semoga tahun depan kita semua lebih sukses, ya. Selamat Tahun Baru 2014!

2014

Indosat Super Internet: Hangout Jadi Lebih Asik

Siapa yang suka hangout ke mall atau tempat-tempat publik pas weekend atau sekadar menunggu lalulintas lengang di hari kerja? Ehem, gue banget itu. :)))

Atau buat yang suka nongkrong di area publik dan gak bisa lepas dari gadget, pasti sering dong ya memaki-maki layanan WIFI yang disediakan mall atau kafe karena kecepatannya yang lemot atau bahkan sinyalnya timbul-tenggelam? Ehem, itu gue juga :))))

Eh tapi sekarang gak perlu risau lagi sekarang. Indosat hadir di tempat-tempat keramaian dengan jaringan Indosat Super Internet. Bagi yang belum tau, Indosat Super Internet itu adalah layanan internet nirkabel yang disediakan oleh Indosat di area publik khusus bagi pelanggan setianya. Gratis!

Tadi siang (22/Des) bertempat di D’Mall Depok, Indosat memperkenalkan layanan ini secara luas kepada masyarakat utamanya para pegiat online yang aktif di Depok, Bekasi, dan sekitarnya. Berikut beberapa fotonya:

image

image

Rame kan yang datang? Biasanya kalo udah rame begini layanan internetnya suka lemot, kan? Tapi Indosat ini beda lo. Liat nih hasil tes kecepatannya:

image

Keren kan? Kalo temen-temen yang punya gadget lebih bagus malah hasil tesnya gila, ada yang sampe 14 Mbps! Puas deh tuh mau browsing, nonton Youtube sampe ngerjain tugas atau sharing data pas lagi hangout di mall.

Layanan Indosat Super Internet kini sudah tersedia di banyak tempat umum di Jabodetabek dan cakupannya akan terus diperluas.

Psst, saya sudah cerita belum kalau layanan ini gratis dan tidak menghabiskan kuota internet bulanan kamu? Asalkan kamu sudah membeli salah satu paket internet Indosat, otomatis kamu akan dikirimkan SMS berisi username dan password layanan WiFi-nya. Free and unlimited.

Manyun di kafe karena pengen browsing tapi koneksi lemot? With Indosat, it’s now a thing of the past. ^^

Foto lagi deh sebelum lanjut hangout ke tempat lain #eh

image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,182 other followers